Kami adalah Martir

3 Comments

Mengingatkan teman dan sodara untuk berhenti merokok memang bukan suatu langkah mudah. Niat baik kita untuk melindungi mereka sering dianggap sebagai “serangan”. Bahkan kita sering dibuat jengkel dan marah dengan pertahanan mereka yang kadang justru menyerang balik.

Yang perlu kita tahu, jauh di lubuk hati, mereka ingin berhenti merokok. Saya jamin itu. Kekuatan candu nikotin lah yang mengalahkan keinginan itu.

Para perokok terdiri dari orang-oarang terhormat dan orang-orang berpendidikan tinggi. Ada presiden Amerika di sana. Banyak pula para dokter yang berdiri di antara mereka. Sekali lagi, candu nikotinlah yang luar biasa, membekuk akal sehat dengan telaknya.

Jarang perokok yang berterus terang dirinya ingin berhenti dan tak kuasa melakukannya. Yang ada adalah seribu alasan pertahanan yang disebut rasionalisasi: mencari pembenaran dari tindakan yang tidak benar.

Rasionalisasi legalisasi rokok yang paling populer tak lain adalah nasib petani tembakau dan pekerja pabrik rokok. Mau dibawa kemana mereka jika rokok dibumi hapuskan? “Dibawa ke dunia terang” jawab saya 🙂

Dan rasionalisasi yang paling bikin jengkel dan bikin malas kita tuk mengingatkan mereka?

Kami adalah tentara handal
Tak perlu ajari kami cara berperang
Kami adalah martir
Siap mati untuk ibu pertiwi

-sangat heroik-

Galau le

9 Comments

Masih inget percakapan dengan salah satu senior dan teman seangkatan saya selepas makan siang di kantin Mbak Yanti di belakang kantor beberapa hari yang lalu.
“Saya sudah apatis dengan dunia pendidikan. Malas nglanjutin kuliah lagi, belajar sistem ekonomi yang jelas-jelas diharamkan oleh agama kita. Belajar ilmu hukum yang bertentangan dengan hukum agama kita”, ujar senior saya.
Pertannyaan dari beliau: “kalian mengejar beasiswa yang akan mengajarkan kepada kalian sistem ekonomi riba? Gek kepiye koweki dokán”
“Iya ya. Belum lagi kalau harus menuntut ilmu di negara non muslim. Bakalan banyak sekali tantangannya”, timpal saya.
Temen satu leting saya berargumen: “kan untuk mengubah sesuatu harus paham dulu apa yang mau kita ganti itu, apa kelebihan dan kekurangannya, harus dipelajari dulu itu, hehehe”.
Bener juga ya. Sama seperti tempat kita kerja ini. Meskipun kita sekarang bekerja jadi “polisi mbako” yang oleh beberapa ulama diharamkan, namun ada “ultimate goal” yang bisa kita jadikan pegangan.
Belum selesai diskusi tentang ilmu, teman seangkatan saya bertanya lagi: “Lha terus ngapain kita mengejar karir yang justru akan menyibukkan diri kita dengan dunia dan melalaikan akhirat?”
“Kalau posisi sekarang lebih dekat dengan Allah, mengapa mengejar posisi yang justru akan menjauhkanmu dariNya?”
Alasan saya hampir sama dengan alasanmu di atas bro. Kalau kita ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus ambil peran yang terbesar. Orang di posisi atas mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memberi dan bermanfaat bagi orang banyak. Ya nggak? Temen saya cuma manggut2.
Haduuh, galau yang tak berkesudahan kalau memikirkan hal-hal tersebut.
Obat galau:
1. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
2. Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Mo Absen Manual, Mo Finger Print, Mo Retina Print, tetep Saja tergantung Ketegasan dari Atasan

Leave a comment

Sudah lebih dari empat tahun ini kantor saya menerapkan absensi elektronik dengan menggunakan pengenal dimensi telapak tangan dan jari-jari tangan (bukan pengenal sidik jari). Kehadiran mesin ini menghadirkan revolusi kedisiplinan pegawai untuk hadir dan pulang tepat waktu. More

PT KAI, Terus Berbenah

3 Comments

Logo baru, lagu baru dan peraturan-peraturan baru, inilah wajah PT KAI tahun ini.

Peraturan untuk kereta jarak jauh banyak yang berubah. Peraturan yang berubah drastis antara lain tarif reduksi 50% untuk anggota TNI – POLRI, larangan pengantar masuk ke peron dan tentu saja yang paling mencolok adalah peniadaan tiket tanpa tempat duduk.

Saya rasa semua peraturan itu dimaksudkan untuk memberi jaminan keamanan dan kenyamanan bagi para penumpang. Selama ini, jumlah penumpang yang melebihi kapasitas sering dituding sebagai penyebab seringnya kereta mengalami anjlok. Penumpang yang berjubel di sambungan antar gerbong juga rawan menjadi korban kecelakaan.

Efek dari perubahan peraturan ini langsung bisa kita lihat, penumpang tanpa tiket berkurang drastis. Jika dulu banyak penumpang duduk berjubel di lantai dan sambungan antar gerbong, maka kini troli yang berisi snack dan minuman ringan bisa lancar berjalan menyusuri lorong-lorong sepanjang gerbong.

Hanya sayangnya, peraturan itu mengabaikan sebagian penumpang kereta api yang selama ini setia dengan layanan moda transportasi ini meskipun harus berdiri atau duduk selonjoran di lantai kereta. Dengan berlakunya peraturan baru itu, kapasitas angkut kereta menurun drastis, banyak calon penumpang yang tidak kebagian tiket.

Saya sendiri yang selama ini memilih kereta sebagai sarana transportasi, kesulitan untuk memperoleh tiket. Jangan harap bisa membeli tiket di hari keberangkatan, khususnya untuk akhir pekan. Kalau dulu calon penumpang masih bisa mengandalkan tiket tanpa tempat duduk, sekarang siap-siaplah tuk gigit jari.

Lalu, kemana sebagian penumpang itu dilimpahkan? Tak ada solusi dari PT KAI, tak ada penambahan armada atau gerbong untuk menampung sisa penumpang yang tak memperoleh tiket. Sementara ini mereka beralih ke moda transportasi lain, dan bis menjadi pilihan pengganti.

Satu-satunya cara untuk memperoleh tiket kereta adalah merencanakan kepergian anda jauh-jauh hari dan segera membeli tiketnya. Membeli tiket satu minggu sebelum keberangkatan bukan jaminan kita akan mendapatkan tiketnya, apalagi beli tiket di hari keberangkatan.

Saya berharap kedepannya PT KAI menambah banyak armada untuk melayani calon penumpang yang belum bisa terpenuhi. Jalur ganda sudah banyak dibangun, kini saatnya PT KAI mengimbanginya dengan menambah jadwal kereta, bukan malah menguranginya.

Dialog Thole dengan Bundanya

Leave a comment

  • Bunda: Mir, dikantormu masih sering bagi-bagi utrima*?
  • Amir: Sekarang sudah jarang bu, semenjak reformasi birokrasi, utrima menurun drastis
  • Bunda: Kalo ada yang begituan, trima aja yo lee. Nanti kasih ke Bunda aja. Biar Bunda nanti kasih ke tetangga-tetangga kita. Kasihan mereka lee, buat makan sehari-hari aja susah. Lihat itu Lik Karsi, dia janda kan lee. Sementara dia harus menanggung biaya hidup 9 anggota keluarganya hanya dengan kerja buruh serabutan. Lik Joyo juga, dia dan istrinya sakit-sakitan, anaknya dah gak peduli lagi. Apa gak kasihan kamu ama mereka lee?
  • Amir: Bunda, yang namanya utrima-gratifikasi-suap-uang pelican itu sama saja Bunda, hanya istilahnya saja yang berbeda. Hukum agama dan Negara kita jelas-jelas melarang kita tuk menerimanya.
  • Bunda: Iya, Bunda juga tahu. Tapi kita kan gak memanfaatkannya barang sepeserpun, kita Cuma menjadi perantara agar uang itu sampai ke fakir miskin, tak lebih lee
  • Amir: Bunda, terus apa bedanya saya dengan koruptor kelas kakap negeri ini Bunda. Mereka gunakan uang hasil korupsinya tuk membangun masjid-masjid yang megah, menyantuni ribuan anak yatim dan fakir miskin, membangun jalan aspal mulus di pelosok kampung yang dilewati ribuan orang tiap harinya. Bunda, amal sedekah sebesar apapun tidak bernilai di mata Allah jika berasal dari sesuati yang haram Bunda. Dengan menyedekahkannya ke fakir miskin dan anak yatim, tidak akan menghapus dosa korupsi kita Bunda.

*utrima: uang terima kasih

Septic Tank Terpanjang di Dunia

5 Comments

Pernah naek kereta api (di negera kita tercwintah Indonesia tentunya)? Pernah gunain toiletnya? Sadar ga tuh kotoran kita dibuang kemana?

Yoi mamen, kotoran kita langsung dihamburkan ke ruangan terbuka di bawah kereta. Aseek banget kan, praktis, he he he, hi hi hi, hueeeeeek. Gak yang kelas ekonomi atau yang kelas bisnis saja, kereta yang eksekutif pun buang “sampah” sembarangan di sepanjang rel. More

Tegaknya Surau Kami – I

Leave a comment

Lantunan bacaan Alqur’an memecah sunyinya pagi, riuh menyambut naiknya sang fajar. Sholat Subuh berjamaah baru saja selesai ditunaikan. Ada 15 orang yang ikut berjamaah subuh kala itu, kesemuanya para pemuda, mahasiswa tampaknya. Adzan subuh menggerakkan hati dan kaki mereka menuju bangunan kecil itu, sebuah musholla berukuran 8 x 13 meter di pinggiran Jalan Gejayan. Tulisan Al-Jihad terpampang di atas pintu musholla, mungkin itu nama mushollanya -tentu saja, :).

Musholla itu sendiri lebih mirip seperti sekretariat sebuah organisasi. (Baca Selanjutnya)

Nasionalisme Kanak-kanak

Leave a comment

(Rabu, 1 September 2010) Presiden malam nanti akan berpidato menanggapi isu sensitif konflik perbatasan dengan Malaysia. Sebagian besar masyarakat berharap presiden kita ini akan mengeluarkan statement gahar nan garang terhadap pemerintah Malaysia. Bahkan kalau perlu sekalian saja menabuh genderang perang, mengumumkan konfrontasi terbuka dengan negara tetangga ini seperti yang dilakukan Bung Karno di era 60-an:

“Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malasia, kurang ajar! (Baca Lanjutannya)