Lisboa

Leave a comment

Lisbon, Lisabon, atau Lisboa, sebutan untuk ibu kota Portugal. Lisboa barangkali adalah sebutan yang lebih afdhol untuk kota ini sebagaimana masyarakat penghuninya menyebut kota itu. Merupakan salahsatu kota tertua di Eropa. Bahkan konon katanya, kota ini lebih tua usianya dari pada kota Roma di Italia.

Kota ini terletak di muara sungai Tagus dengan kontur berbukit-bukit dengan tujuh puncak bukit andalannya (miradouro), tempat dimana turis-turis bisa memandang lansekap kota dari atasnya.

Kota ini sedikit menampakkan sisa-sisa tsunami dahsyat akibat gempa tahun 1775 yang meluluhlantakkan pesisir kota ini. Perbedaan tata kota antar bangunan di tepian muara dengan bangunan di atas bukitlah yang diklaim menjadi bukti terjadinya tsunami di masa lampau.

Kota lama pada sebuah kawasan yang populer disebut Alfama yang terletak di atas bukit menampakkan jalan-jalan berupa gang-gang sempit semacam labirin. Para turis biasanya akan dengan sukarela menyesatkan dirinya di gang-gang sempit tersebut, menyusuri jalan-jalan sempit yang ditata dari batu, sambil menikmati alunan musik Fado yang mengalun dari tiap sudut restoran di kawasan itu. Atau menikmati steak daging tipis khas Portugal (bitoque) di restaurante yang menyemut di gank-gank kecil tersebut.

Pusat wisata kota Lisboa terletak di dua kawasan utama: di daerah Belem dan di kawasan Centro Historico/Historic Center (yang mencakup Rua Augusta di kawasan Baixa Xiado, Praca Comercio, Alfama, Graca, Santa Justa lift, Sao Jorge Castle, Praca Figuera dan Rossio Square). Yang menarik, kawasan Centro Historico ini hanya berjarak sepersekian kilo meter dari dermaga kapal pesiar yang berada tepat di samping stasiun kereta Santa Apolonia. Kapal-kapal pesiar dari berbagai negara bersandar di dermaga yang terletak di muara sungai Tagus tersebut untuk menurunkan para wisatawan.

Yang khas dari arsitektur Lisboa adalah  paving trotoarnya yang terbuat dari potongan kecil batu alam yang tersusun rapi (calcada portuguesa/cobblestone). Paving tradisional ini sebenarnya tidak hanya terdapat di Lisboa, tapi juga di kota-kota di seluruh Portugal. Di beberapa lokasi, paving ini membentuk sebuah mozaik dengan pola gambar tertentu yag menarik untuk dipandang.

Tak lupa, azulejo de portugal atau dinding keramik lukis khas Portugal juga menjadi ciri khas kota Lisboa. Seni arsitektur ini berupa dinding keramik yang dilukis dengan tinta warna biru. Saat ini azulejo hanya tersisa pada bangunan-bangunan tua seperti gereja dan rumah tinggal. Jumlahnya semakin menyusut seiring dengan gaya arsitektur modern yang mulai meninggalkannya.

Menjaga Mimpi

Leave a comment

Pagi ini cuaca cerah sekali. Sinar mentari menyinari genangan air di halaman gedung rektorat UGM,  memantulkan bayangan pilar-pilar kokoh gedungnya. Saya duduk disamping pilar-pilar tinggi itu,  menerawang jauh kebelakang, ke masa lalu, memanggil memori yang terekam lebih dari dua dekade  yang telah lalu.

Saat itu saya masih SD. Saya dibonceng pakdhe saya berkeliling kampus UGM dengan menggunakan  motor GL 100nya sehabis mengambil beasiswa di kanwil pendidikan DIY. Gambaran pilar-pilar tinggi  gedung rektorat UGM begitu mengakar dalam benak pikiran saya. Tanpa sadar, saya pun berangan-  angan suatu saat nanti bisa menimba ilmu di kampus ini. Asa itu terus terjaga dalam hati saya. Ketika  kelas tiga sma menginjak akhir masanya, saya membangun asa untuk masuk teknik industri UGM. Hanya  pengumuman penerimaan UNS melalui jalur PMDK lah yang memudarkan asa itu. Kemudian benar-  benar tenggelam saat saya memilih belajar di STAN.

Asa itu kembali hidup saat saya lulus dari DIV STAN dan mulai mencari-cari alternatif beasiswa S2.  Gambaran pilar-pilar tinggi gedung rektorat UGM kembali muncul menjadi asa. Setiap kali pulang ke  Jogja menemui istri (saat itu masih pengantin baru), selalu kami sempatkan untuk putar-putar kampus  UGM, membangun sugesti bahwa suatu saat nanti saya bisa belajar di kampus impian ini. Melawati  simpang empat MM UGM, kami sedikit bercanda bahwasanya inilah kampus masa depanku.

Akhir tahun 2013, mimpi itu menjadi kenyataan. Melalui beasiswa SPIRIT saya bisa mengambil program  double degree dalam dan luar negeri. Sebuah paket kejadian yang sekaligus bisa mewujudkan dua mimpi  besar saya sejak kecil: kuliah di UGM dan di universitas luar negeri.

The law of attraction?

Ketika mendengar kata The Law of Attraction, ada rasa percaya dan tidak percaya dalam diri  saya. Sebagai umat beragama, saya percaya bahwa segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh yang maha  kuasa. Hanya saja, beberapa pengalaman yang saya alami menguatkan hipotesis The Law of Attraction  itu. Entahlah, antara percaya dan tak percaya.

Suara burung bangau penghuni hutan kampus UGM menyadarkanku. Tak terasa genangan air tumpah  dari sudut mataku. Sungguh tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kuliah sambil “berwisata” tiap hari di  Jogja harus segera berakhir. Kini saya sedang mengurus persyaratan wisuda, sudah saatnya saya lulus  dari kampus tercinta ini.

 

-Balairung UGM, 25 Juni 2016, satu bulan menjelang wisuda-

WILL, COURAGE, CONFIDENCE

Leave a comment

Kamis, 19 April 2012, kabur sejenak dari rutinitas kerjaan kantor. Dengan diantar abang tukang ojeg, cukup dengan 20 menit dan perpindahan kepemilikan uang 20 ribu, saya sudah berpindah tempat, menginjak mall legendaris di Jekardah tercintah, Grand Indonesia. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk datang di acara launching buku “Menapak Tiang Langit” yang diselenggarakan oleh Mahitala Unpar.

Saya tiba pukul 09.30, tepat seperti waktu yang dijanjikan acara akan dimulai. Mall masih sepi, bahkan para karyawan baru pada datang. Terlihat sedikit kesibukan di lantai 8 sisi barat mall itu. Beberapa orang memasang banner dengan gambar gunung es terpampang. Beberapa lagi sedang mendirikan tenda Eiger warna kuning gading.

Seiring berjalannya waktu, tamu-tamu mulai berdatangan, memadati depan meja registrasi. Wajah-wajah asinglah yang nampak diselingi obrolan renyah antar mereka. Saya cuma jadi pendengar random, berusaha menangkap ide-ide pokok dalam percakapan itu.

“Bulan Mei saya mau ke Amadablam, ikut gak”

“Bapak wartawan? Ini ada tiket khusus untuk wartawan”

“Kamu tambah berlemak aja Mo”

Isi buku tamu sudah, dapat voucher makan siang juga, namun goodie bag putih menarik berisi merchandise gagal saya dapatkan. Khusus untuk tamu undangan katanya.

Jadi saya ini tamu ilegal? Oo tentu tidak, saya juga diundang kok. Ketika tamu-tamu lain datang membawa undangan cetak. Saya cuma bawa kepercayaan diri. Bahwa ISSEMU mengundang secara terbuka di dunia maya tentu bukan undangan basa basi.

Dan memang terbukti, saya bisa masuk ke ruangan acara. Baru tahu kalau acaranya di gelar di studio bioskop. Memang sih, di pengumuman sudah diberi tahu bahwa acaranya akan berlangsung di Blitz Megaplex, tapi saya tak kira mo diadain di dalam studionya.

Ternyata, acara utamanya adalah pemutaran video ekspedisi serta peluncuran bukunya yang juga dikemas dalam sebuah video.

Acara baru benar-benar dimulai menjelang setengah sebelas, molor hampir satu jam dari jadwalnya. Pembawa acaranya adalah Olga Lidya (bukan Olga Syahputra) yang adalah alumnus tehnik sipil Unpar.

Pemutaran videonya sendiri berlangsung tak kurang dari 30 menit. Video yang luar biasa. Bikin hati bergetar ketika gambar menunjukkan pencapaian puncak-puncak benuanya. Ilustrasinya pun mendukung sangat. Mantap mentong lah pokoknya.

Ada satu bagian video yang bikin saya trenyuh menjurus mewek, ketika video pendakian Elbrus di negeri Rusia ditampilkan di layar bioskop. Seakan tempat itu tak asing lagi bagi saya.

ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ, Saya pernah jadi bakal calon pendakinya. Kami, Stapala pernah sangat dekat dengan puncaknya, sebelum badai putih merenggut pencapaiannya.

Perih, mbrebes mili, nggembeng saya dibuatnya. Saya iri dengan mereka, sungguh.

Pfuff, sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang waktunya berfikir untuk masa depan.

Kemudian muncul cuplikan video pendidikan dasar Mahitala. Sekilas saja memang, tapi sudah bisa menggambarkan kualitas diklat dasar yang mereka jalankan.

Di sini saya berfikir, pantas saja hasilnya luar biasa, diksarnya saja juga luar biasa. Kalau kata simbah saya “ora baen-baen”, bukan main-main, tapi disusun dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Setelah melihat cuplikan video diksar itu, saya semakin condong ke pendapat bahwa kualitas adalah yang utama. Jumlah anggota yang bejibun tak akan berguna jika tak berkualitas. Mengapa saya menyinggung kualitas dan kuantitas? Maklum saja, selama ini dalam perekrutan anggota, organisasi yang saya ikuti selalu terjebak dalam debat panjang tiada akhir: “mana yang lebih penting, kualitas atau kuantitas anggota baru”.

Akhirnya yang terjadi adalah menggadaikan kualitas diksar untuk mempertahankan satu-dua tambahan anggota. Sedih gak tuh.

Okey, kembali ke acara peluncuran bukunya. Acara ditutup dengan bincang-bincang dengan keempat seven summitter. Mereka berbagi cerita, kesan, dan pengalaman selama ekspedisi berlangsung.

Selepas acara, ketika keluar ruang studio, baru nampaklah wajah-wajah yang tak asing lagi di dunia adventure Indonesia. Terlihat Ogun Gunawan, Don Hasman, Paimo, Bongkeng, juga Herman Lantang. Nama terakhir datang dengan seragam khasnya, rompi dan topi koboi.

Herman Lantang, usianya sudah senja. Jalannya harus dibantu oleh sebuah tongkat gunung. Namun semangat mudanya tak perlu diragukan. Dengan mantab dia berikan nomor hpnya, dia tunjukkan juga alamat blognya.

“Sekarang saya menulis. Blog saya hermanlantang.blogspot.com. Anak saya yang kelola”. Mantab lah kakek yang satu ini.

Sebelum pulang, saya iseng menukarkan tiket tempat duduknya dengan goodie bag yang saya lihat masih banyak berjejer di belakang meja registrasi. Dan woilaaa, panitianya langsung memberikan satu goodie bag berisi kaos dan topi kepada saya. Alhamdulillah 😀

Mengenai bukunya sendiri, satu bundel buku yang terdiri dari dua buku (buku kedua dan buku terbaru) dibanderol dengan harga 400 ribu. Harga yang sangat mahal menurut saya. Tak lain karena foto-foto eksklusifnya.

Alangkah indahnya, jika bukunya bisa lebih murah lagi. Tak perlu dengan kertas dan foto lux. Cukup dengan kertas biasa, layaknya buku cerita lainnya. Terus bisa tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Tersebar di pepustakaan-perpustakaan SD, SMP dan SMA. Yang akan menginspirasi, memupuk mimpi-mimpi anak-anak negeri ini untuk mencapai puncak cita-citanya.

Bukan muluk cita harapan saya itu, karena pencapaian tujuh puncak oleh Mahitala itu sendiri sebenarnya berawal dari sebuah mimpi salah satu anggotanya. Sani Handoko, senior dari keempat seven summitter itulah yang mewujudkan mimpi lamanya ketika masih mahasiswa. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Motivasi dari WordPress

2 Comments

Akhir-akhir ini saya lebih sering mengupdate blog ini melalui aplikasi WordPress for Blackberry. Aplikasi ini bisa didownload secara gratis di application worl BB. Keunggulannya, saya bisa update kapan saja dan dimana saja asalkan ada sinyal HP. Begitu ada ide, langsung dah ketik di HP. Upload media -misalnya foto, pun bisa dilakukan melalui aplikasi ini.

Namun, kembali juga saya update via web. Selain karena gak kuat “ngragati paket BB” :D, ada satu hal yang bikin saya akhirnya kembali update blog via web. Tak lain adalah kata-kata penyemangat yang WordPress tampilkan begitu kita selesai memposting suatu judul. Quotes yang ditampilkan berhubungan dengan dunia penulisan. Maksudnya, WordPress memacu kita agar terus menulis.

Tak hanya quotes-quotes menarik saja yang ditampilkan oleh WordPress di dashboard sebelah kiri atas itu. Nampak juga tantangan dari WordPress berupa target yang diberikan kepada kita. Misalnya kita baru saja mempublih posting ke 100. Maka Worpress akan men”challenge” kita untuk mencapai target 105 posting, disertai dengan quotes seperti yang tersebut di atas.

Ketika kita berhasil mencapai target yang telah diberikan oleh WordPress, maka ucapan selamat pun akan ditampilkan juga di sana.

Berikut ini beberapa quotes yang pernah ditampilkan Worpress di dashboard blog saya:

The first step in blogging is not writing them but reading them. -Jeff Jarvis

Every writer I know has trouble writing. -Joseph Heller

There is creative reading as well as creative writing. -Ralph Waldo Emerson

Be obscure clearly. -OB White

The only reason for being a professional writer is that you can’t help it. -Leo Rosten

The art of writing is the art of discovering what you believe. -Gustave Flaubert

Dreams are illustrations from the book your soul is writing about you. -Marsha Norman

Galau le

9 Comments

Masih inget percakapan dengan mas Arbi dan Slamet selepas makan siang di kantin Mbak Yanti di belakang kantor beberapa hari yang lalu.
“Saya sudah apatis dengan dunia pendidikan. Malas nglanjutin kuliah lagi, belajar sistem ekonomi yang jelas-jelas diharamkan oleh agama kita. Belajar ilmu hukum yang bertentangan dengan hukum agama kita”, ujar mas Arbi.
Pertannyaan dari Mas Arbi: “kalian mengejar beasiswa yang akan mengajarkan kepada kalian sistem ekonomi riba? Gek kepiye koweki dokán”
“Iya ya. Belum lagi kalau harus menuntut ilmu di negara kafir”, timpal saya.
Slamet beralasan: “kan untuk mengubah sesuatu harus paham dulu kelemahannya, harus dipelajari dulu itu, hehehe”.
Lhah tapi mas, kita aja sekarang bekerja jadi “polisi mbako” yang notabene diharamkan oleh banyak ulama, hayo looo. Juga ngurusi pajak impor yang menurut sebagian ulama haram hukumnya. Alangkah beruntungnya lulusan STAN yang tidak ditempatkan di Bea Cukai dan Pajak.
Belum selesai diskusi debat tentang ilmu, giliran Slamet yang bertanya: “Lha terus ngapain kita mengejar karir yang justru akan menyibukkan diri kita dengan dunia dan melalaikan akhirat?”
Sedikit statistik sederhana, ratusan pelaksana solat jamaah setiap hari di masjid kantor. Puluhan kepala seksi ikut di dalamnya. Dan kurang dari lima eselon tiga yang ikut solat berjamaah di masjid. Sementara eselon dua kadang-kadang ada 1, kadang 2, kadang 3, dan kadang tak ada sama sekali. Kalau eselon satu? Hehehe, ada gak ya?
“Kalau posisi sekarang lebih dekat dengan Allah, mengapa mengejar posisi yang justru akan menjauhkanmu dariNya?”
Alasan saya: “Kan kalau ingin ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus ambil peran yang terbesar.”
Haduuh, galau yang tak berkesudahan kalau memikirkan hal-hal tersebut.
Obat galau:
1. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
2. Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Move on

1 Comment

Move on bagi saya adalah jika saya bisa bebas dari kecanduan social media: facebook dan twitter.

Ketika bisa konsentrasi bekerja di kantor. Kerjaan kacau karena sebentar-sebentar buka fb dan twitter

Ketika bisa tidur lebih awal. Tidur larut karena tadarus fb dan twitter

Ketika bisa menjamah kembali buku-buku yang sudah mendebu di rak kayu. Lebih asyik baca status fb dan timeline twitter

Bangun tidur, berdoa, sembahyang, lari pagi. Bangun tidur, mata masih kriyip-kriyip langsung buka fb dan twitter

Sehabis sholat bisa puas-puasin dzikir. Habis salam, tangan langsung meraih hp: update status fb dan twitter

Ketika baca Quran, hadist dan buku agama dalam seharinya bisa lebih lama dari pada melayari fb dan twitter.

Dan langkah awal moving on itu saya mulai hari ini, ketika saya serahkan password fb dan twitter saya kepada belahan hati saya tuk diganti.

Memangnya sudah separah itukah kecanduan saya akan social media? Sejak kapan? Gak bisakah dikontrol saja? Mengapa tak ganti saja HPnya dengan HP jadul? Kenapa gak di-deactivated aja akunnya? Emangnya gak ada manfaat sama sekali ya fb dan twitter itu?

Yes, I’m a social media addict. I’m fb-ing and twittering all day long.

Dari mana semua itu berawal? Saya tak ingin ketinggalan informasi apa saja. Dan fb serta twitter menyediakannya dengan sangat baik hati. Saya dapatkan banyak informasi dari fb dan twiiter. Saya beli kaos dengan design yang bagus via fb, sy dapatkan informasi kegiatan bermutu di ibukota ini dari twitter. Review buku-buku yang bagus bertebaran di fb. Foto-foto yang luar biasa bagus dipajang di fb. Semua semua semua ada di sini.

Saya terkoneksi dengan teman sd-smp-sma melalui fb. Chat dengan teman di Papua via fb. Olok-olokan dengan rekan di sulawesi lewat twitter. Saya bisa melakukan apa saja dengan media ini.

But, it goes wrong. Fb dan twitter telah menyita sebagian besar waktu saya. Ketika sembahyang dinomorsekiankan, ketika kerjaan diterbengkalaikan, ketika waktu tidur diconvert menjadi waktu lek-lekan membaca teks fb dan twitter.

Kini waktunya untuk menjadi normal.

Link terkait:

Confessions of a Social Media Addict

A social-media addict tries to disconnect

Demotivated

2 Comments

Poster di atas saya dapatkan dari grup Blackberry messenger. Sebuah poster yang mewakili golongan yang kontra dengan kegiatan motivasional.

Well, setiap hal pasti ada yang pro dan kontra, demikian halnya dengan kegiatan motivasi, ada pendukung dan penentangnya.

Saya menasbihkan diri sebagai pendukung teori motivasi, tapi pada saatnya akan tiba masa di mana saya putus asa, terpuruk dalam suatu kondisi yang tidak “nyaman”.

Nah, postingan ini saya publish pertama kali saat mengalami kondisi seperti disebut di atas. Hanya saja, ketika saya kembali meng-edit postingan ini, keadaan psikis saya sudah jauh lebih baik, hehehe.

Jadilah postingan dini saya anggap lucu-lucuan saja.

Other demotivational posters at: despair.com

Older Entries