WILL, COURAGE, CONFIDENCE

Leave a comment

Kamis, 19 April 2012, kabur sejenak dari rutinitas kerjaan kantor. Dengan diantar abang tukang ojeg, cukup dengan 20 menit dan perpindahan kepemilikan uang 20 ribu, saya sudah berpindah tempat, menginjak mall legendaris di Jekardah tercintah, Grand Indonesia. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk datang di acara launching buku “Menapak Tiang Langit” yang diselenggarakan oleh Mahitala Unpar.

Saya tiba pukul 09.30, tepat seperti waktu yang dijanjikan acara akan dimulai. Mall masih sepi, bahkan para karyawan baru pada datang. Terlihat sedikit kesibukan di lantai 8 sisi barat mall itu. Beberapa orang memasang banner dengan gambar gunung es terpampang. Beberapa lagi sedang mendirikan tenda Eiger warna kuning gading.

Seiring berjalannya waktu, tamu-tamu mulai berdatangan, memadati depan meja registrasi. Wajah-wajah asinglah yang nampak diselingi obrolan renyah antar mereka. Saya cuma jadi pendengar random, berusaha menangkap ide-ide pokok dalam percakapan itu.

“Bulan Mei saya mau ke Amadablam, ikut gak”

“Bapak wartawan? Ini ada tiket khusus untuk wartawan”

“Kamu tambah berlemak aja Mo”

Isi buku tamu sudah, dapat voucher makan siang juga, namun goodie bag putih menarik berisi merchandise gagal saya dapatkan. Khusus untuk tamu undangan katanya.

Jadi saya ini tamu ilegal? Oo tentu tidak, saya juga diundang kok. Ketika tamu-tamu lain datang membawa undangan cetak. Saya cuma bawa kepercayaan diri. Bahwa ISSEMU mengundang secara terbuka di dunia maya tentu bukan undangan basa basi.

Dan memang terbukti, saya bisa masuk ke ruangan acara. Baru tahu kalau acaranya di gelar di studio bioskop. Memang sih, di pengumuman sudah diberi tahu bahwa acaranya akan berlangsung di Blitz Megaplex, tapi saya tak kira mo diadain di dalam studionya.

Ternyata, acara utamanya adalah pemutaran video ekspedisi serta peluncuran bukunya yang juga dikemas dalam sebuah video.

Acara baru benar-benar dimulai menjelang setengah sebelas, molor hampir satu jam dari jadwalnya. Pembawa acaranya adalah Olga Lidya (bukan Olga Syahputra) yang adalah alumnus tehnik sipil Unpar.

Pemutaran videonya sendiri berlangsung tak kurang dari 30 menit. Video yang luar biasa. Bikin hati bergetar ketika gambar menunjukkan pencapaian puncak-puncak benuanya. Ilustrasinya pun mendukung sangat. Mantap mentong lah pokoknya.

Ada satu bagian video yang bikin saya trenyuh menjurus mewek, ketika video pendakian Elbrus di negeri Rusia ditampilkan di layar bioskop. Seakan tempat itu tak asing lagi bagi saya.

ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ, Saya pernah jadi bakal calon pendakinya. Kami, Stapala pernah sangat dekat dengan puncaknya, sebelum badai putih merenggut pencapaiannya.

Perih, mbrebes mili, nggembeng saya dibuatnya. Saya iri dengan mereka, sungguh.

Pfuff, sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang waktunya berfikir untuk masa depan.

Kemudian muncul cuplikan video pendidikan dasar Mahitala. Sekilas saja memang, tapi sudah bisa menggambarkan kualitas diklat dasar yang mereka jalankan.

Di sini saya berfikir, pantas saja hasilnya luar biasa, diksarnya saja juga luar biasa. Kalau kata simbah saya “ora baen-baen”, bukan main-main, tapi disusun dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Setelah melihat cuplikan video diksar itu, saya semakin condong ke pendapat bahwa kualitas adalah yang utama. Jumlah anggota yang bejibun tak akan berguna jika tak berkualitas. Mengapa saya menyinggung kualitas dan kuantitas? Maklum saja, selama ini dalam perekrutan anggota, organisasi yang saya ikuti selalu terjebak dalam debat panjang tiada akhir: “mana yang lebih penting, kualitas atau kuantitas anggota baru”.

Akhirnya yang terjadi adalah menggadaikan kualitas diksar untuk mempertahankan satu-dua tambahan anggota. Sedih gak tuh.

Okey, kembali ke acara peluncuran bukunya. Acara ditutup dengan bincang-bincang dengan keempat seven summitter. Mereka berbagi cerita, kesan, dan pengalaman selama ekspedisi berlangsung.

Selepas acara, ketika keluar ruang studio, baru nampaklah wajah-wajah yang tak asing lagi di dunia adventure Indonesia. Terlihat Ogun Gunawan, Don Hasman, Paimo, Bongkeng, juga Herman Lantang. Nama terakhir datang dengan seragam khasnya, rompi dan topi koboi.

Herman Lantang, usianya sudah senja. Jalannya harus dibantu oleh sebuah tongkat gunung. Namun semangat mudanya tak perlu diragukan. Dengan mantab dia berikan nomor hpnya, dia tunjukkan juga alamat blognya.

“Sekarang saya menulis. Blog saya hermanlantang.blogspot.com. Anak saya yang kelola”. Mantab lah kakek yang satu ini.

Sebelum pulang, saya iseng menukarkan tiket tempat duduknya dengan goodie bag yang saya lihat masih banyak berjejer di belakang meja registrasi. Dan woilaaa, panitianya langsung memberikan satu goodie bag berisi kaos dan topi kepada saya. Alhamdulillah 😀

Mengenai bukunya sendiri, satu bundel buku yang terdiri dari dua buku (buku kedua dan buku terbaru) dibanderol dengan harga 400 ribu. Harga yang sangat mahal menurut saya. Tak lain karena foto-foto eksklusifnya.

Alangkah indahnya, jika bukunya bisa lebih murah lagi. Tak perlu dengan kertas dan foto lux. Cukup dengan kertas biasa, layaknya buku cerita lainnya. Terus bisa tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Tersebar di pepustakaan-perpustakaan SD, SMP dan SMA. Yang akan menginspirasi, memupuk mimpi-mimpi anak-anak negeri ini untuk mencapai puncak cita-citanya.

Bukan muluk cita harapan saya itu, karena pencapaian tujuh puncak oleh Mahitala itu sendiri sebenarnya berawal dari sebuah mimpi salah satu anggotanya. Sani Handoko, senior dari keempat seven summitter itulah yang mewujudkan mimpi lamanya ketika masih mahasiswa. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Edelweiss dan Hantu Gunung

3 Comments

Cap sebagai seorang pendaki sudah melekat pada diri saya meskipun sudah setahun saya tidak lagi naik gunung.

“Kapan naik lagi? Ajak-ajak dong!” adalah pertanyaan wajib yang bikin bosan tuk ngejawabnya :D.

Dua pertanyaan lain yang juga sering ditanyakan kepada saya adalah “Pernah lihat hantu di gunung gak?” Dan “nemu edelweiss gak?”

Pertanyaan pertama, bikin dongkol bin jengkel. Jawaban saya: seumur-umur saya belom pernah lihat hantu. Hellow, hari gini masih percaya hantu? Itu jin iseng kaleee, yang berusaha menggoyahkan iman kita.

Tak bisa dipungkiri memang, setiap gunung selalu ada cerita mistis yang terbangun di kalangan masyarakat di kaki gunung. Gunung Ciremai contohnya, populer dengan Nini Peletnya. Gunung Semeru dengan arca kembar mistisnya. Gunung Argopuro dengan kisah Dewi Rengganisnya, dan masih buanyak lagi.

Tapi sekali lagi, itu pemahaman yang salah. Sama halnya dengan kepercayaan masyarakat akan Nyi Roro Kidul. Bahwa mungkin ada pernah masyarakat yang pernah melihat penampakannya, tak lain itu hanyalah tipu daya jin.

Kalau masalah edelweiss, hampir di tiap gunung ada. Ada tuh puluhan hektar “kebun” Edelweiss di Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede. Di Argopuro bahkan “kebun”nya lebih luas lagi.

Pertanyaan itu menjurus ke satu hal. Bahwa mendaki gunung identik dengan oleh-oleh sekuntum bunga abadi edelweiss. Sama seperti kalau kita mo naik gunung trus temen-temen awam pada nitip dibawakan oleh-oleh bunga edelweiss.

Saya sebut teman-teman “awam” karena mereka belum paham kode etik pendaki gunung. Bahwa kita dilarang untuk memetik, mengambil atau merusak sesuatu dari gunung, termasuk memetik sang Edelweiss yang langka ini.

Pernah di suatu waktu dalam perjalanan pulang dari mendaki Gunung Sindoro, saya bercakap-cakap dengan kondektur bus. Begitu tahu saya dan team baru saja turun gunung, langsung saja dia bertanya: “dapat edelweiss gak mas?”

Belum sempat saya menjawabnya, dia langsung cerita dengan bangganya, bahwa dia dulunya juga sering mendaki. Tiap kali turun gunung, yang dibawa adalah segenggam bunga edelweiss untuk diberikan ke gadis pujaan. Miris gak tuh?

Di lain kesempatan, saat mendaki Merbabu, anggota team saya langsung kalap begitu melihat edelweiss bermekaran. Langsung saja dia petik edelweiss dengan rakusnya. Prihatin gak tuh?

Tak hanya kalangan pendaki awam yang salah persepsi dengan edelweiss ini, yang mengira bunga ini bisa dipetik sesuka hati. Teman-teman yang katanya anggota organisasi pecinta alampun banyak yang melanggar kode etik ini. Foto-foto narsis dengan bunga edelweiss di genggaman tangan menjadi bukti ke”cubluk”an pikir mereka.
Sedih gak tuh?

Sedikit Cerita dari 7 Summitter

Leave a comment

Tahukah Anda, berapa berat beban logistik dan perlengkapan yang dibawa tim ekspedisi seven summits Mahitala Unpar saat mendaki Everest? 7,5 ton coy, manteb kan 😀

Berapa biaya tiket pesawat Jakarta-Punta Arenas Chile yang harus dibayarkan tim ISSEMU? 250 juta jack @_@.

Dan tahukah Anda bahwa makanan yang dikonsumsi oleh tim ISSEMU selama di Vinson Massif Antartika adalah makanan kaleng “sisa” yang
ditinggalakan oleh sebuah tim tahun 2006 yang sebenarnya sudah kadaluarsa. Namun karena disimpan dalam suhu ekstrem di bawah nol derajat, maka tanggal kadaluarsanya menjadi tidak berlaku :).

Fakta-fakta tersebut di atas adalah sebagian dari kisah dan pengalaman yang dibagi oleh dua seven summitter Indonesia pada acara Deep and Extrem di Jakarta Convention Center, Sabtu 30 Maret 2012.

Cerita yang lain yang terjadi selama berlangsungnya Indonesian Seven Summits Expedition Mahitala Unpar adalah perjuangan hidup mati anggota ekspedisi menghadapi keganasan alam.

Seperti yang dituturkan oleh Sofyan Arief Feza, anggota ekspedisi paling senior, dirinya dan salah seorang sherpa mengalami kejadian yang nyaris berakibat fatal. Saat berusaha menggapai puncak tertinggi dunia, Everest, mereka hampir saja terkubur hidup-hidup oleh avalance (longsoran salju) yang meluncur dari atas tebing menuju tepat di depan mereka dalam jarak hanya 50 meter saja. Dia ceritakan bahwa sang sherpa langsung lari tunggang langgang meninggalkan tas carrier penuh beban begitu mendengar suara gemuruh dari atas tebing. Sang sherpa berhasil lolos dari maut setelah berlindung dalam cerukan salju yang sempat dia gali. Namun, carrier yang ditinggalkannya itu pada akhirnya terkubur salju dan tak ditemukan lagi. Sementara Ian (panggilan Sofyan Arief Feza) terkena hempasan ujung longsoran salju yang cukup kuat untuk membuatnya jatuh terguling-guling.

Cerita “horor” yang lain datang dari Broery Andrew Sihombing, anggota ekspedisi yang lain. Kejadiannya ketika mereka mendaki puncak tertinggi Antartika, Vinson Massif. Ia jatuh terperosok kedalam sebuah craverse (jurang yang tertutup salju rapuh) yang cukup dalam. Dirinya diselamatkan oleh tali yang memang sengaja dikaitkan ke pendaki lain. Teknik pendakian dengan cara ini disebut moving together, di mana pendaki satu dengan yang lain saling terhubung oleh tali kernmantel yang berfungsi sebagai pengaman. Andaikat salah satu pendaki terjatuh ke lereng bawah atau jurang, maka pendaki yang lain masih bisa menahannya dengan tali pengaman tersebut.

[Sumbing Jalur Kaliangkrik] Jumawa Membawa Kami Tersesat di Gunung Sumbing

4 Comments

15 Januari 2011

Kereta Bengawan baru saja berlalu meninggalkan kami di stasiun besar Kutoarjo. Butuh waktu dan usaha ekstra bagi kami tuk menurunkan carier-carier besar keluar dari kereta, diselingi dengan gerutuan penumpang lain tentunya, hehehe, maaf. Seperti biasa, kereta jarak jauh di akhir pekan selalu saja dipenuhi pemudik mingguan. Seperti biasa pula, banyak penumpang liar tanpa tiket menjalankan aksinya. Malam itu 2 orang dari rombongan kami juga menjadi salah satu oknumnya. Gokong dan Codet rela bersengsara ria, sembunyi di bawah bangku kereta, menaruh kepalanya diantara kaki-kaki bau demi tumpangan gratis senilai 34 ribu. Sesekali mereka melongokkan kepala keluar ketika mendengar suara bungkus makanan dibuka, minta jatah, wkwk. Ketika petugas pemeriksa tiket datang, mereka diam tak berkutik di bawah bangku, sementara anak-anak yang lain berusaha menutup kolong dengan apa saja tuk mengelabuhi petugas.

Sampai dengan naik minibus carteran menuju Parakan Temanggung, anak-anak Masa Bimbingan Gunung Hutan Stapala mengira saya dan Gokong akan turut dalam pendakian Sumbing via Jalur Cepit. Sampai akhirnya, ketika di pertigaan di mana banyak bus arah Wonosobo dan Magelang berhenti menunggu penumpang, saya dan Gokong berpindah ke bus umum menuju Magelang. Mereka baru tahu jika kami berdua akan mendaki Sumbing via Kaliangkrik. [Full Story]

Raung Sejati Jalur Kalibaru 2011

16 Comments

Rally 7 Summits East Java

Pendakian gunung Raung kali ini adalah salah satu rangkaian dalam program Rally  7 summits East Java 2011 yang dilaksanakan divisi Gunung Hutan Stapala. Pada awalnya kegiatan ini akan dilaksanakan oleh satu tim dengan sistem mendaki tujuh gunung dalam satu trip atau secara rally. Perkiraan waktu tidak memungkinkan untuk diselesaikan oleh satu tim. Kemudian dibagilah menjadi dua tim dengan nama yang secara spontan keluar dari mulut, MU dan Tangerang Wolves. Tim MU terdiri dari Gokong (saya), Codet, gembes dan Tumber. Tim ini akan mendaki lima gunung sekaligus, Raung, Arjuna, Welirang, Penanggungan dan Semeru. Sedangkan Tangerang Wolves beranggotakan Kace, Joneh dan Ewel, mereka mendaki Argopuro dan Lawu. (Lanjut Baca)

Catper Pendakian Gunung Argopuro – Gunung Lawu via Cetho 2011

Leave a comment

Diceritakan Oleh Joneh 925/2011

Argopuro, 7-10 maret 2011

Besuki 

Setelah menempuh perjalananan kurang lebih 7 jam dari Surabaya, kami tiba di Besuki jam 17.00. Karena kami tiba terlalu sore di Besuki sehingga angkot (Lyn) yang dapat membawa kami ke desa Baderan sudah tidak beroperasi, kami bermalam di Musholla Kantor Polisi Besuki dan disambut ramah oleh Pak Agus yang sedang piket jaga saat kami meminta ijin bermalam disana. Selain kami, ternyata ada seorang bapak yang juga mau bermalam di Musholla, lupa siapa namanya, yang  berbicara full bahasa Madura dan kamipun hanya bisa cengar-cengir kuda. Malamnya kami jalan-jalan di Alun-alun kota Besuki yang tidak jauh dari kantor polisi sekaligus membeli logistik yang masih kurang. Saat kami mau tidur, datang lagi seorang bapak, yang sama tuanya dengan bapak yang pertama, berasal dari desa Melanting (entahlah dimana desa itu berada) ikut bergabung bersama kami tidur di Musholla. Nampaknya Musholla ini Primadona tempat bermalam bagi orang-orang yang sudah kemalaman dalam perjalanan. (Baca Catper Lengkapnya

Pendakian Pertamaku

2 Comments

Mencoba kembali mengingat kejadian delapan tahun lalu. Catatan ini saya copy dari blog saya terdahulu. Sekedar sharing pengalaman dengan teman-teman pembaca.

Waktu : Pendakian Umum Stapala 2002

Tempat : Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sabtu pagi, pukul 07.00 dengan ransel abal-abal seharga Rp. 75.000 (ransel/carier besar tanpa rangka yang saya beli di sebuah toko tas di jalan Solo/jalan Urip Sumoharjo, Jogjakarta), saya meninggalkan kost menuju Posko Stapala, gedung G Kampus STAN tercinta. Bersama Bayu, Widhi dan Topik (teman satu kost) dengan semangat tinggi, saya melangkahkan kaki menyusuri gang-gang kecil di kampong Kalimongso. Hari ini kami akan mengikuti Pendakian Umum ke Gunung Gede yang diadakan oleh Stapala, organisasi pencinta alam di kampus saya. Setiap peserta ditarik iuran Rp. 30.000,00. Dengan uang sebesar itu para peserta mendapat transport PP, dipinjami tenda dan tentu saja para pemandu dari STAPALA. (Baca Cerita Lanjutannya)

(Seven Summits) Perbandingan 7 Puncak di 7 Benua

Leave a comment

Tujuh Puncak Lokasi Ketinggian (mdpl) Tingkat Kesulitan Teknis
Tingkat Kesulitan Ketinggian Total Tingkat Kesulitan
Carstensz Pyramid Papua, Indonesia 4884 3 1.5 4.5(mid easy)
Vinson Antarctica 4897 3 1.5 4.5(mid easy)
Elbrus Rusia 5642 1 2.5 3.5(relatively easy)
Kilimanjaro Tanzania 5895 0 2.5 2.5(easy)
Mc Kinley Alaska 6195 N/A 2.5 N/A
Aconcagua Mendoza, Argentina 6962 2 2.5 5.5(mid)
Everest (via the north) Tibet, China 8848 3 5.5 8.5(difficult)

Sumber: http://7summits-club.com/

Seven Summit Schedule

Months Mountain Height (Ft) Continent Stage Description
June to August Elbrus 18,540 Europe II Easy glacier slopes to a high summit
Sept – Oct Carstensz 16,023 Oceania II Easy-Moderate Rock climbing, exotic terrain
Year Round Kilimanjaro 19,340 Africa II Easy-Moderate, non-technical
Dec – Feb Aconcagua 22,841 South Amer III Expedition style climbing, non-technical
January Vinson 16,067 Antarctic III Arctic, extreme cold, moderate difficulty
May – June Denali 20,320 North America IV Arctic, extreme cold, moderate difficulty
March-May Everest 29,030 Asia VI Extreme altitude expedition climbing

Sumber: http://www.mountainmadness.com/

Pesan dari Batam

Leave a comment

Dalam pendakian gunung, yang diperlukan cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya; tangan yang akan berbuat lebih baik dari biasanya; mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya; leher yang akan lebih sering melihat keatas; lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja; dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya; serta mulut yang akan selalu berdoa.
-Horison Tarzan Kota-

Perjalanan 7 Gunung 8 Hari (26 Agustus – 2 September 1995)

6 Comments

Iseng buka-buka file jadul di lemari file besi poskost Stapala, saya nemuin file laporan perjalanan usang. Kertasnya sudah menguning, diketik dengan mesin ketik manual. Tadinya sih saya mo minta tolong ke rental komputer untuk mengetik ulang naskahnya. Tapi kemudian Palpiyatun 901 ternyata bersedia untuk mengetiknya. File hasil ketikan ulangnya sempat hilang entah kemana hingga posko pindah lagi ke kampus. Untungnya beberapa hari yang lalu file tersebut nongol lagi, :).

Perjalanan yang luar biasa. Berbekal fisik yang prima dan sedikit kenekatan, abang-abang senior ini berhasil mendaki tujuh gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Slamet, Sindoro, Sumbing, Lawu, Merbabu, Welirang dan Arjuno) dalam tempo delapan hari. Satu gunung yang direncanakan gagal didaki (Ciremai), tapi ada juga gunung yang di luar rencana justru malah sukses dipuncaki (Lawu). Tim ini juga merasakan pengalaman tersesat di Gunung Lawu dan Gunung Welirang-Arjuno. (Baca Catpernya)

Older Entries