Hikayat Manusia-manusia Berleher Panjang

1 Comment

Ketika datang hari perhitungan, seluruh umat manusia dikumpulkan di padang Mahsyar. Saat itulah akan nampak diantara umat manusia itu ada segelintir manusia berleher jenjang. Mereka berjalan dengan kepala tegak dan lebih menonjol dari yang lain. Mereka ditinggikan oleh Allah.

Siapakah gerangan mereka itu? Dikisahkan bahwa mereka adalah umat yang sewaktu hidup di dunia menyerukan adzan, memanggil umat yang lain untuk menegakkan sholat jamaah di masjid. Berleher panjang diartikan bahwa mereka mempunyai derajat lebih tinggi dari yang lain.

Begitu utamanya amalan seorang muadzin. Sudah seharusnyalah kita berebut untuk menyuarakan adzan di masjid.

Sayangnya, yang terJadi di sekitar kita justru sebaliknya. Muadzin seakan dimonopoli oleh sedikit orang saja. Yang adzan pasti yang itu-itu terus. Ada 2 kemungkinan yang terjadi: pertama, petugas adzan memang sudah dipilih dan ditetapkan oleh pengurus masjid dari orang-orang yang bersuara merdu dengan nafas yang panjang sehingga akan indah didengarkan oleh jamaah. Jika ini yang terjadi, selayaknyalah tak hanya satu orang yang ditunjuk, namun beberapa orang dengan jadwal yang jelas.

Kedua, dan ini saya rasa yang banyak terjadi. Banyak yang enggan untuk jadi muadzin. Bisa karena minder suaranya parau, bisa juga karena malas. Malas datang paling awal ke masjid 😀

Seperti yang terjadi di kampung saya, masjid Baiturrahim. Selama berpuluh-puluh tahun, muadzin dijabat oleh mbah Sis (bukan sis NS lho) yang (maaf) untuk melafalkan kata “Allahu akbar” dengan benar saja susah. Justru yang terdengar adalah “Alohu wabar”. Mbah Sis terpaksa lengser dari kursi muadzin setelah dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Mudah-mudahan Allah memberi tempat terbaik bagi mbah Sis di alam akhirat.

Yang terjadi di masjid-masjid tetangga dusun juga demikian. Rata-rata muadzin tunggalnya adalah kakek-kakek sepuh yang tinggal di dekat masjid. Dengan nada adzan yang sama dan jauh dari merdu, sehari selama lima kali dan telah berlangsung berpuluh tahun 🙂

Memang berat untuk menjadi seorang muadzin. Dibutuhkan nyali yang besar dan modal nafas yang panjang. Salah sedikit, maka jamaah yang mendengar pasti akan menertawakannya. Seperti yang pernah saya alami saat masih sekolah dulu. Pernah saya salah ambil nada awalan yang terlalu tinggi. Akibatnya, di tengah adzan, suara tidak sampai bagai tercekik. Malu lah saya dibuatnya. Apalagi pengeras suara yang dipakai bisa melengkingkan suara hingga ke seluruh penjuru kampung, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ

Sebenarnya saya ingin menjadi manusia berleher panjang kelak. Namun, suara cempreng dan nyali yang rendah mengurungkan keinginan itu. Bertahun-tahun lamanya tidak mengumandangkan adzan, minggu lalu saya diberi kesempatan melakukannya lagi. Saat diklat di BDK Cimahi, beberapa kali saya menjadi muadzin. Sempat deg-degan juga dibuatnya. Tapi Alhamdulillah, meski dengan nada yang standard banget, adzan berhasil dikumandangkan dengan lancar. Cukup mengobati kerinduan masa-masa aktif di organisasi remaja masjid dulu.

Galau le

9 Comments

Masih inget percakapan dengan salah satu senior dan teman seangkatan saya selepas makan siang di kantin Mbak Yanti di belakang kantor beberapa hari yang lalu.
“Saya sudah apatis dengan dunia pendidikan. Malas nglanjutin kuliah lagi, belajar sistem ekonomi yang jelas-jelas diharamkan oleh agama kita. Belajar ilmu hukum yang bertentangan dengan hukum agama kita”, ujar senior saya.
Pertannyaan dari beliau: “kalian mengejar beasiswa yang akan mengajarkan kepada kalian sistem ekonomi riba? Gek kepiye koweki dokán”
“Iya ya. Belum lagi kalau harus menuntut ilmu di negara non muslim. Bakalan banyak sekali tantangannya”, timpal saya.
Temen satu leting saya berargumen: “kan untuk mengubah sesuatu harus paham dulu apa yang mau kita ganti itu, apa kelebihan dan kekurangannya, harus dipelajari dulu itu, hehehe”.
Bener juga ya. Sama seperti tempat kita kerja ini. Meskipun kita sekarang bekerja jadi “polisi mbako” yang oleh beberapa ulama diharamkan, namun ada “ultimate goal” yang bisa kita jadikan pegangan.
Belum selesai diskusi tentang ilmu, teman seangkatan saya bertanya lagi: “Lha terus ngapain kita mengejar karir yang justru akan menyibukkan diri kita dengan dunia dan melalaikan akhirat?”
“Kalau posisi sekarang lebih dekat dengan Allah, mengapa mengejar posisi yang justru akan menjauhkanmu dariNya?”
Alasan saya hampir sama dengan alasanmu di atas bro. Kalau kita ingin merubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus ambil peran yang terbesar. Orang di posisi atas mempunyai kesempatan lebih banyak untuk memberi dan bermanfaat bagi orang banyak. Ya nggak? Temen saya cuma manggut2.
Haduuh, galau yang tak berkesudahan kalau memikirkan hal-hal tersebut.
Obat galau:
1. Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat
2. Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Move on

1 Comment

Move on bagi saya adalah jika saya bisa bebas dari kecanduan social media: facebook dan twitter.

Ketika bisa konsentrasi bekerja di kantor. Kerjaan kacau karena sebentar-sebentar buka fb dan twitter

Ketika bisa tidur lebih awal. Tidur larut karena tadarus fb dan twitter

Ketika bisa menjamah kembali buku-buku yang sudah mendebu di rak kayu. Lebih asyik baca status fb dan timeline twitter

Bangun tidur, berdoa, sembahyang, lari pagi. Bangun tidur, mata masih kriyip-kriyip langsung buka fb dan twitter

Sehabis sholat bisa puas-puasin dzikir. Habis salam, tangan langsung meraih hp: update status fb dan twitter

Ketika baca Quran, hadist dan buku agama dalam seharinya bisa lebih lama dari pada melayari fb dan twitter.

Dan langkah awal moving on itu saya mulai hari ini, ketika saya serahkan password fb dan twitter saya kepada belahan hati saya tuk diganti.

Memangnya sudah separah itukah kecanduan saya akan social media? Sejak kapan? Gak bisakah dikontrol saja? Mengapa tak ganti saja HPnya dengan HP jadul? Kenapa gak di-deactivated aja akunnya? Emangnya gak ada manfaat sama sekali ya fb dan twitter itu?

Yes, I’m a social media addict. I’m fb-ing and twittering all day long.

Dari mana semua itu berawal? Saya tak ingin ketinggalan informasi apa saja. Dan fb serta twitter menyediakannya dengan sangat baik hati. Saya dapatkan banyak informasi dari fb dan twiiter. Saya beli kaos dengan design yang bagus via fb, sy dapatkan informasi kegiatan bermutu di ibukota ini dari twitter. Review buku-buku yang bagus bertebaran di fb. Foto-foto yang luar biasa bagus dipajang di fb. Semua semua semua ada di sini.

Saya terkoneksi dengan teman sd-smp-sma melalui fb. Chat dengan teman di Papua via fb. Olok-olokan dengan rekan di sulawesi lewat twitter. Saya bisa melakukan apa saja dengan media ini.

But, it goes wrong. Fb dan twitter telah menyita sebagian besar waktu saya. Ketika sembahyang dinomorsekiankan, ketika kerjaan diterbengkalaikan, ketika waktu tidur diconvert menjadi waktu lek-lekan membaca teks fb dan twitter.

Kini waktunya untuk menjadi normal.

Link terkait:

Confessions of a Social Media Addict

A social-media addict tries to disconnect

Don’t Judge a Book by Its Cover (again and again)

3 Comments

Sabtu lalu saya ikut latihan atlet Ekspedisi Elbrus Stapala di bukit Senayan yang telah memasuki fase speed. Sekedar nimbrung sih, mengingat saya sudah mundur dari seleksi atlet beberapa minggu sebelumnya.

Maghrib berkumandang ketika kami selesaikan latihan bagian pertama. Latihan akan dilanjutkan setelah buka puasa dan sholat maghrib di Masjid Al Bina, tepat di sebelah komplek bukit itu.

Jamaah pertama sudah selesai saat saya masuk ke dalam Masjid Al Bina petang itu. Langsung saja saya ikuti jamaah baru yang sudah siap. Nampak seorang pemuda tampil sebagai imam. Penampilannya cukup menarik perhatian saya. Rambutnya panjang dan digimbal; memakai celana kargo loreng dengan banyak saku menempel; kaos oblong hitam dengan sablon menghiasi bagian belakang kaosnya.

Pede amat ini orang, bisik saya dalam hati. Tapi begitu dia mulai membaca Al Fatihah, baru saya tahu bacaannya sungguh bagus, makhrojnya mantab. Kekaguman saya tak berhenti di situ. Selesai Al Fatihah dia membaca surat Ar Rahman dari ayat pertama hingga ayat 13 dengan fasihnya. Sementara di rokaat kedua dia baca surat Al Jumu’ah ayat 9 sampai 11, masih dengan makhrojul huruf yang baik sekali.

Sungguh tak kuduga, dibalik penampilannya yang nyeleneh itu tersimpan hafalan Qur’an yang bagus. Surat Ar Rahman dan Al Jumu’ah, dua surat yang saya sendiri belum bisa menghafalnya….(:maluuu)

Malu Kepada Manusia vs Malu Kepada Yang Maha Mengetahui

Leave a comment

Suatu saat di warung angkringan, lewat tengah malam di depan terminal Giwangan Jogja. Saat  itu saya baru saja sampai di Jogja selepas mendaki gunung Slamet di Purwokerto. Sambil menunggu dijemput adik saya, saya menyempatkan diri menikmati nasi kucing plus gorengan nan ni’mat. Di samping saya seorang tukang ojeg yang gagal membujuk saya tuk diantarnya sedang berdialog dengan seorang wanita malam.

Tukang Ojeg: “Saiki mangkal nang kene terus mbak?”

WTS: “Iyo mas, wes ra oleh panggon meneh nang café je

TO: “Gek wong tuwomu ngerti ora mbak nek kerjamu kie ngene?

WTS: “Yo ora to mas. Ngene-ngene aku yo isih nduwe isin. Mesakkne wong tuwaku nek ngerti aku koyo ngene. Ngertine yo aku kerja dadi pelayan nang café mas

Siapapun dia, orang pasti punya rasa malu. Hanya kadarnya saja yang berbeda untuk masing-masing individu. Malu adalah fitrah manusia. Malu ketika perbuatan buruknya diketahui orang lain. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa kita malu kepada manusia tetapi tidak malu kepada Yang Maha Mengetahui segala tindak tanduk kita?

Sudah selayaknyalah kita malu kepada diri sendiri dan kepada Tuhan. Malu jika tidak melaksanakan perintahNya dan malu jika melanggar aturanNya.

Tips Hafalan Qur’an

Leave a comment

Pernah suatu saat saya bertemu dengan sahabat di parkiran motor kantor. Sesaat setelah bersalaman dan bertegur sapa, mata saya tertarik akan potongan kertas persegi panjang yang tertempel di atas sepedo meter sepeda motor (blebtbtbt ribet :P) sang sahabat.

Tulisan arab tertera di kertas itu lengkap dengan artinya dalam bahasa Indonesia. Tertarik dengannya saya iseng bertanya? Walau sebenarnya saya tahu itu adalah salah satu dari tiga kemungkinan ini: ayat quran, hadist, atau lafal do’a harian. Dan sudah barang tentu – pasti pula, saya yakin itu bukan lafal penolak bala, jimat, atau mantra anti maling motor dsb  dsb :P.

Hanya saja, tempat di mana kertas itu berada pasti akan menarik (tak sekedar mengundang) tanya bagi setiap orang yang melihatnya.

“Kang, apa ini kang?”

“Oh ini, hafalan Qur’an Ris.”

“Wah, keren kang.”

“Ah, ini sekedar teknik praktis menghafal Quran sembari memanfaatkan kesempatan aja kok ris.”

“Maksudnya kang?”

“Begini, kan dari rumah ke kantor ada tuh lebih dari sepuluh lampu merah yang saya lewati. Kalau PP, berarti tinggal kaliin dua aja. Dari pada mata jelalatan kemana-mana saat tertahan di lampu merah, mending baca ayat qur’an ini sekalian menghafal.

“Iya ya.”

“Nah saat jalan, coba kita hafalin tanpa melihat teksnya.’’ (yaiyalah, kalo liat teksnya bisa-bisa nubruk pengendara lain kang :D)

“ Lumayan loh ris, setiap hari saya ganti ayatnya, saya tempel yang baru.”

“Wewww, tips yang sangat bermanfaat kang, patut dicoba.”

Memang luar biasa akang yang satu ini. Satu lagi teladan di sekitar kita. Sebuah hal kecil yang apabila kita lakukan akan menjadi amalan yang sangat berharga. Bayangkan aja, tiap hari bisa bertambah  hafalan satu ayat. Bahkan bisa beberapa ayat pendek dalam satu harinya. Superb!!!

Tegaknya Surau Kami – I

Leave a comment

Lantunan bacaan Alqur’an memecah sunyinya pagi, riuh menyambut naiknya sang fajar. Sholat Subuh berjamaah baru saja selesai ditunaikan. Ada 15 orang yang ikut berjamaah subuh kala itu, kesemuanya para pemuda, mahasiswa tampaknya. Adzan subuh menggerakkan hati dan kaki mereka menuju bangunan kecil itu, sebuah musholla berukuran 8 x 13 meter di pinggiran Jalan Gejayan. Tulisan Al-Jihad terpampang di atas pintu musholla, mungkin itu nama mushollanya -tentu saja, :).

Musholla itu sendiri lebih mirip seperti sekretariat sebuah organisasi. (Baca Selanjutnya)

Catatan Akhir Ramadhan

Leave a comment

Ramadhan tahun ini bersisa beberapa hari lagi. Sedih rasanya, tidak bisa memanfaatkan bulan penuh berkah ini dengan sebaik-baiknya.

Ada beberapa poin penting yang perlu saya catat untuk ramadhan tahun ini. Catatan pribadi yang mungkin juga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan semua.

Walaupun masih acak-adut, Alhamdulillah ramadhan tahun  ini ada peningkatan dibanding tiga ramadhan sebelumnya, wallahualam. Saya akui memang ramadhan demi ramadhan yang saya lewati setelah saya memasuki dunia kerja begitu “parahnya”. (Read more)