Gadis Genit dan Kakek ‘Muda’

1 Comment

Anak perempuan yang sangat manis duduk di sampingku. Bangku no 16B, gerbong 6, kereta Progo.
Dengan rok mini warna pink di atas lutut, spatu pink, kaos merah dan jaket pink, mengipas-ngipaskan kipas hingga anginnya terhembus juga ke arahku.
Kakinya digoyang-goyangkan, sambil terus bertanya kapan kretanya jalan. Panggilan telpon ke sebrang sinyal -mungkin kepada orang terkasihnya- gagal nyambung.
Jarum jam menunjuk ke takik antara angka 8 dan sembilan. Perlahan kreta bergerak. Dan sorak riang anak genit itu berderai.
“Ayah, kretanya jalan!”,
disusul tos akrab anak manis 3 tahunan itu dengan ayahnya.
“Kita telpon ibu lagi ya dik!”, pinta sang ayah untuk anaknya.

Di bangku lain, gerbong yang lain, di atas kereta yang lain, dalam malam tanggal yang lain pula nampak seorang kakek merapikan buku yang habis dibacanya. Buku yang masih rapi meski kertasnya sudah menguning dimakan tahun itu dia satukan dengan tumpukan buku lain yang tak kalah kuningnya, di dalam tas plastik yang ia taruh di rak barang dalam gerbong.
Remang lampu dalam gerbong tak menyurutkan minat bacanya meski harus dengan bantuan pseudoeye-nya (kaca mata- red).
Lalu dia buka bekal nasinya. Dikeluarkannya satu persatu lauk yang terpisah dalam masing-masing plastik. Lahap nian dia santap nasi lauk itu.
Kelar dengan urusan perut, dia lanjutkan mengasupi otaknya, melahap lembar demi lembar kitab kuning itu.

Spesial Wader Piyungan

1 Comment

Bagi Anda yang ingin mencoba variasi kuliner di sekitaran Jogja, Anda bisa mencoba menu yang satu ini.

Nama warung: RM Bu Tri, Spesial Wader
Menu: wader kali presto berbagai ukuran
Lokasi: Jl. Wonosari, sebelah barat lampu merah Piyungan (50 mtr), Bantul, sebelah utara jalan.
Yang istimewa dari RM makan ini,  masakan wader kali prestonya empuk hingga ke tulangnya. Wader gorengnya tidak terasa pahit meskipun dimasak utuh. Yang paling istimewa adalah tersedia wader ukuran jumbo lengkap dengan telur lezatnya yg masih menempel di perutnya.

Bisa makan di warung (tersedia nasi), bisa juga beli secara kg-an. Boleh beri seperempat kg, setengah kilo, sekilo ato berkilo-kilo 😀

‘Saya Tidak Akan Beli Bakso Lagi’

Leave a comment

Sabtu, selepas kumpul bareng insan sepak bola Jakarta Timur di Lubang Buaya, saya lajukan motor – raja bising saya, mampir ke tempat teman – sahabat lebih tepatnya, karena saya sudah berteman dengannya sejak kecil – di daerah Cilangkap.
Dia lulusan Madrasah, tapi kemudian terjerumus di dunia pengolahan makanan. Sudah malang melintang di berbagai rumah produksi makanan dan minuman. Spesialisasinya: bagian produksi (pengolahan) daging, meskipun dia juga jago meracik kopi yang biasa tersaji di cafe-cafe elit.
Dalam silaturahim saya kemaren, saya diajak tuk menengok usaha barunya, warung mie ayam-bakso yang sudah sebulan ini dia rintis. Sempat pula saya mencoba menyicip mie ayam jamur + bakso yang sungguh ciamik rasanya.
Obrolan ngalor ngidulpun berlangsung dari jam 3 sore hingga malam hari jam 8 menjelang warungnya tutup.
Salah satu topik menarik yang kami bahas adalah mengenai bakso.
Bahasan mengenai bakso dia awali dengan ceritanya berbelanja kebutuhan warung ke pasar-pasar.
Pernah dia melakukan survey ke tiga tempat penggilingan daging untuk bahan pembuatan bakso.
Dan yang mengejutkan, semua tempat penggilingan bakso itu mencampurkan bahan kimia makanan jauh di atas batas yang diperbolehkan. Takarannya benar-benar keterlaluan.

“Berapa kilo bu?”, tanya tukang giling daging. Dan setelahnya, “byuk byuk byuk”, si tukang giling itu akan memasukkan beberapa sendok sodium benzoat kedalam gilingan dagingnya.

Ketika hal itu dia ceritakan kepada pamannya, seketika itu juga dia gak percaya. Setelah sang paman diajak untuk melihat sendiri fenomena tersebut, barulah dia percaya dan “bersumpah” tidak akan beli bakso lagi di sembarang warung.

Dia melanjutkan ceritanya, bakso yang normal tidak akan tahan di udara terbuka lebih dari dua jam.
Jadi, hati-hati jika warung bakso memajang baksonya di etalase kaca. Itulah indikasi awal bakso tersebut mengandung bahan kimia yang berlebihan, sehingga bisa tahan lama di udara terbuka.

Tak dipungkiri, bakso-makanan-minuman kemasan memang membutuhkan bahan kimia tambahan dalam pembuatannya. Zat kimia yang sering ditambahkan dalam makanan dan minuman yang paling populer adalah Natrium Benzoat (rumus kimianya C7H5NaO2) dengan nama pasaran sodium benzoat. Fungsinya untuk menambah umur makanan agar lebih awet.

Dalam pembuatan bakso, fungsi tambahannya adalah agar bakso mudah dibentuk dan tampilannya menarik (bulat cantik dan kenyal). Memang sih, agar daging bakso mudah dibentuk, salah satu caranya adalah dengan mencampurkan tepung kanji (tepung tapioka/tepung sagu) kedalam adonan daging. Makin banyak tepungnya, makin mudah bakso dibentuk. Hanya saja, semakin banyak tepung yang ditambahkan, maka rasa enak baksonya akan berkurang. Di sinilah sodium benzoat berperan untuk menyatukan minyak/lemak dalam bakso dengan air sehingga bakso mudah dibentuk.

Lalu, berapa ambang batas penggunaan bahan tambahan pangan sodium benzoat ini? Ukurannya berbeda untuk masing-masing negara. Batas maksimum penggunaan natrium benzoat menurut Permenkes RI nomor 722/Menkes/Per/IX/88 adalah 1 gr/kg. Sebagai perbandingan, satu sendok makan tepung beratnya kira-kira 10 gram (tentunya untuk sodium benzoat/natrium benzoat lebih dr 10 gr karena garam lebih berat dari pada tepung). Jadi jika 1 gram, maka sekedar seujung sendok sahaja. Nah kalau bersendok-sendok makan sodium benzoat untuk satu-dua kilo daging? Itung sendiri ya, berapa kali lipat dari batas ambang yang diperkenankan. :(.

Link Terkait:

Jenis-jenis bahan pengawet pada makanan dan batas penggunanaannya.

Bahan Pengawet pada Kecap dan Saus yang Melebihi Batas.

Bakso Sehat.

Resep Bakso Homemade bebas Pengenyal dan MSG.

Kabar dari Malaysia

Leave a comment

“Piye kabare? Ganti nomer to? Pantesan susah dihubungi. Alhamdulillah sehat di sini, ini baru balik dari masjid. Alhamdulillah kerjaan lancar. Kerja tinggal pilih aja. Tadinya jadi supir setum (stom wall, silinder), sekarang pindah jadi tukang listrik. Saya lebaran gak balik, masih betah, dua tahun lagi baru balik.”

Dua bait sms masuk malam tadi, dari sahabat lama yang kini bermukim di negeri jiran Malaysia. Sudah hampir dua tahun ini dia merantau di negeri orang, setelah sebelumnya mengadu nasib di ibukota Jakarta nan kejam.

Tanah seberang sepertinya lebih menjanjikan untuk mencari penghidupan. Hampir sepuluh tahun malang melintang di Jakarta dan kota-kota satelit di sekitarnya, tak teritung berapa kali dia terpaksa berpindah tempat kerja dari satu pabrik ke pabrik lainnya, dari satu mall ke mall lainnya, dari satu kantor ke kantor lainnya.

Bukannya dia tak betah, tapi sistem kontrak dan ketatnya hari kerja memaksanya menjadi kutu loncat dari satu tempat kerja ke tempat kerja yang lain.

Upah yang ia terima di Malaysia mungkin jauh lebih kecil dari upah para Tenaga Kerja Wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di jazirah Arab sana. Tapi setidaknya di negeri Upin dan Ipin ini ia bisa memilih pekerjaan apa yang akan dia tekuni. Yang sekiranya bisa memberikan upah yang lebih menjanjikan dari pada upah di Jakarta. Upah yang bisa menghidupinya di tanah rantau, yang sisanya cukup tuk ia kirim ke kampung halaman.

Negeri Malaysia sebenarnya bukan negara tujuan pertamanya. Sebelum terdampar di Malaysia, dia sempat berniat menjadi ABK kapal Vietnam. Jutaan uang sudah dia serahkan kepada seseorang yang menjanjikannya pekerjaan itu. Tapi apa lacur, entah benar apa cuma sekedar tipuan, orang tersebut mengaku sakit keras di kampung halamannya di Jawa TImur sana. Menguaplah impian bekerja di luar negeri beserta uang berjuta.

Tak patah arang, akhirnya bisa juga dia keluar negeri. Di negerinya Anwar Ibrahim ini dia merajut mimpi, mengumpulkan ringgit untuk bekal hidup di kampung halaman kelak. Tentu dengan pengorbanan yang cukup berat: dia tak akan bisa melihat anak perempuan kecilnya tumbuh besar selama empat tahun. Uang kiriman setiap bulannya itulah yang akan mewakili peluk kasih sayang seorang ayah kepada anak tercintanya.

Dia simpan rindu akut akan anak istri dan keluarganya, rindu tebal kepada kampong halamannya. Yang akan dia tukar dengan sedikit tabungan tuk memulai usaha baru di masa depan.

Sukses untukmu sahabat. Doaku menyertaimu.

Rawamangun, 26 Juni 2012.

My First 10 K Event

Leave a comment

Saya mengaku sebagai penggemar olahraga lari. Namun ironisnya, baru sekali saya ikut lomba lari, itupun dah kapan tahun waktu masih jadi mahasiswa, tarafnya lokal kampus pulak, cuma 5 k lagi, dan yang paling sedih, gak juara, hahaha.

Nah, tak mau dibilang cuma penggemar palsu, alias pencitraan belaka, daftarlah saya ke event lomba lari 10 K. Yang ngadain lombanya Universitas Indonesia, bertaraf nasional, dengan total hadiah 80 juta rupiah :O.

Sebenarnya saya juga daftar event Jakarta internasional 10 K pada pertengahan tahun 2011, hanya saja entah mengapa pada hari H nya saya batal terjun, jadilah saya cuma sekedar jadi pemburu atribut lombanya saja (kaos dan no peserta ;D).

11 Desember 2011, naik taksilah saya dari Rawamangun menuju kampus UI. Tepat selepas subuh saya sudah bertolak dari Rawamangun untuk mengejar waktu start yang dijanjikan pukul 06.30. Sampai di kampus UI Depok, tepatnya di boulevard kampus, suasana masih suepi, baru terlihat beberapa panitia dan peserta lomba yang melakukan registrasi. Ternyata kampus UI bagian ini tak kalah “mblusuk”nya dari kampus STAN jaman saya masih kuliah dulu, banyak semak dan belukarnya.

Tampak beberapa panitia sedang melayani registrasi peserta: satu orang saja yang melakukan pencatatan dengan laptopnya, dan beberapa yang lain menyiapkan atribut lomba bagi peserta.

Seiring meningginya matahari pagi, suasanan menjadi semakin ramai, para peserta sudah banyak yang datang. Tiga teman saya sesama anggota Stapala (Gokong, Bowass dan Teplok) akhirnya nongol juga. Panitia pun nampak kewalahan melayani registrasi peserta. Kasihan panitianya, dirubungin segitu banyak peserta, hehehe.

Untunglah, pesertanya tak sampai jumlah ribuan, sehingga registrasi bisa diselesaikan meski masih dilakukan secara manual: mencari nama satu-satu di file excel yang didapat dari pendaftaran online sebelumnya.

Hampir jam delapan dan lomba akhirnya dimulai juga. Beberapa atlit nasional nampak berada di garis start terdepan, ada I Gede Karangasem dan juga Supriati Sutono (kenal gak gann? Mereka ini pelari nasional yang ngetop saat saya masih sekolah loh, hehehe).

Selepas start, saya berlari pelan, menghemat tenaga untuk 10 km kedepan. Sementara atlet-atlet profesional yang bisa dikenali dari kostum dan postur tubuhnya yang kurus ceking :), langsung melesat jauh kedepan. Buset dah, emang bukan kelas saya, hehehe.

Lintasan lari mengambil jalur lingkar luar kampus UI pada putaran awal (sekitar 5 km), dan untuk selanjutnya jalur yang digunakan adalah lingkar dalam.

Teror Perempuan Bertato Punggung

Dengan nafas tersengal, saya coba tuk berlari stabil. Beberapa pelari berhasil saya lewati, namun sebaliknya, beberapa pelari juga berhasil mendahului saya.
Karena minimnya pengalaman, tak ada patokan kecepatan seberapa yang harus saya pacu. Pelari-pelari yang berada di depan dan yang berhasil mendahului saya adalah patokan satu-satunya. Bahwa saya harus mengejar mereka.

Diantara peserta yang berhasil mendahului saya adalah seorang perempuan bertato di punggungnya. Nampak santai melewati saya, berlari dengan stabilnya melahap lintasan lari yang mulai terik itu.

Buset dah, saya disalib cewek. Ego saya serasa tertampar, maka sayapun berusaha mengejar dan menyalibnya. Namun apa daya, sepertinya cewek itu sudah terlatih berlari 10 K. Dengan pelan tapi pasti, segera saja dia menghilang dari pandangan.

Sementara, langkah kaki saya semakin berat, muka saya terasa panas dan memerah karena asupan oksigen yang terbatas. Selepas setengah jarak lomba, teror yang lain muncul dari belakang. Gokong yang sudah berhasil saya salib pada awal-awal lomba tiba-tiba menyalib saya. Buset nih anak, gak mau kalah ternyata.

Terus saja saya buntutin nih kunyuk dari dekat. Dan beberapa ratus meter sebelum finish, saya sprint cepat, mencoba menyalibnya kembali. Hehehe, kalah panjang langkah dia hingga akhirnya saya berhasil finish didepan kunyuk Sungokong ini :p.

Waktu tempuh saya sekitar 54 menit, terpaut 20 menit dari juara umumnya. Yah maklum, saya bukan atlet yang kerjaannya pasti tiap hari berlatih.

Mahasiswa s3 dan Pemenang yang Kecewa

Pemenang lomba akhirnya diumumkan juga. Seperti yang sudah diperkirakan, juaranya disabet atlet-atlet profesional.

Kategori Putra Professional:

1. I. Gde Karangasem no dada 492, waktu tempuh 35:48.3

2. Bambang no: 490, waktu tempuh 36:11.4

3. Roby Sugara no: 407, waktu tempuh 37:03.5

Yang jadi keheranan saya, dalam daftar pemenang kategori pelajar dan mahasiswa putra, nongol seorang yang gak pantas lagi disebut pelajar atau mahasiswa (mahasiswa s3 mungkin iya, hehehe). Tampangnya tidak bisa bohong bahwa dia sudah sangat “senior”. Memang sih, seleksi dari panitia untuk penentuan peserta kelas lomba sewaktu pendaftaran memang tidak ketat. Semua tergantung pesertanya mau pilih kelas yang mana.

Dan saat pembagian hadiah, tampak seorang atlit yang mendapat peringkat kategori pelajar melakukan tindakan yang tidak simpatik. Dia buang minuman dari sponsor setelah melihat isi amplop hadiah lomba. Sungguh sangat disayangkan, atlit junior sudah money oriented.

Acara yang meriah meski masih banyak kekurangan di sana sini. Salut buat BEM UI yang telah berhasil mengadakan event olahraga bertaraf nasional ini. Semoga event UI 10 K 2012 yang rencananya akan digelar 24 Juni 2012 bisa jauh lebih baik lagi.

Berikut ini poin-poin catatan saya sebagai peserta UI 10 K 2011 yang mungkin bisa bermanfaat untuk panitia kedepannya:

1. Keterlambatan start yang diakibatkan oleh molornya registrasi dan pembagian atribut lomba. Seyogyanya, pembagian atribut lomba bisa dilakukan hari-hari sebelumnya.  Atau paling tidak tersedia banyak meja yang melayani registrasi dan pembagian atribut pada hari H.

2. Panitia mengalami kekurangan stok air minum di garis finish. Kasihan juga melihat beberapa pelari kehausan dan kebingungan mencari air, hehehe.

3. Pencatatan hasil lomba yang masih secara manual mengakibatkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk merekapitulasi waktu tempuh peserta dan menentukan juaranya. Dengan cara seperti ini, kemungkinan kesalahan penentuan pemenang sangat rentan terjadi.

Hehehe, maaf ya banyak kritiknya. Semoga bisa bermanfaat dah :D.

WILL, COURAGE, CONFIDENCE

Leave a comment

Kamis, 19 April 2012, kabur sejenak dari rutinitas kerjaan kantor. Dengan diantar abang tukang ojeg, cukup dengan 20 menit dan perpindahan kepemilikan uang 20 ribu, saya sudah berpindah tempat, menginjak mall legendaris di Jekardah tercintah, Grand Indonesia. Untuk apa? Tak lain dan tak bukan untuk datang di acara launching buku “Menapak Tiang Langit” yang diselenggarakan oleh Mahitala Unpar.

Saya tiba pukul 09.30, tepat seperti waktu yang dijanjikan acara akan dimulai. Mall masih sepi, bahkan para karyawan baru pada datang. Terlihat sedikit kesibukan di lantai 8 sisi barat mall itu. Beberapa orang memasang banner dengan gambar gunung es terpampang. Beberapa lagi sedang mendirikan tenda Eiger warna kuning gading.

Seiring berjalannya waktu, tamu-tamu mulai berdatangan, memadati depan meja registrasi. Wajah-wajah asinglah yang nampak diselingi obrolan renyah antar mereka. Saya cuma jadi pendengar random, berusaha menangkap ide-ide pokok dalam percakapan itu.

“Bulan Mei saya mau ke Amadablam, ikut gak”

“Bapak wartawan? Ini ada tiket khusus untuk wartawan”

“Kamu tambah berlemak aja Mo”

Isi buku tamu sudah, dapat voucher makan siang juga, namun goodie bag putih menarik berisi merchandise gagal saya dapatkan. Khusus untuk tamu undangan katanya.

Jadi saya ini tamu ilegal? Oo tentu tidak, saya juga diundang kok. Ketika tamu-tamu lain datang membawa undangan cetak. Saya cuma bawa kepercayaan diri. Bahwa ISSEMU mengundang secara terbuka di dunia maya tentu bukan undangan basa basi.

Dan memang terbukti, saya bisa masuk ke ruangan acara. Baru tahu kalau acaranya di gelar di studio bioskop. Memang sih, di pengumuman sudah diberi tahu bahwa acaranya akan berlangsung di Blitz Megaplex, tapi saya tak kira mo diadain di dalam studionya.

Ternyata, acara utamanya adalah pemutaran video ekspedisi serta peluncuran bukunya yang juga dikemas dalam sebuah video.

Acara baru benar-benar dimulai menjelang setengah sebelas, molor hampir satu jam dari jadwalnya. Pembawa acaranya adalah Olga Lidya (bukan Olga Syahputra) yang adalah alumnus tehnik sipil Unpar.

Pemutaran videonya sendiri berlangsung tak kurang dari 30 menit. Video yang luar biasa. Bikin hati bergetar ketika gambar menunjukkan pencapaian puncak-puncak benuanya. Ilustrasinya pun mendukung sangat. Mantap mentong lah pokoknya.

Ada satu bagian video yang bikin saya trenyuh menjurus mewek, ketika video pendakian Elbrus di negeri Rusia ditampilkan di layar bioskop. Seakan tempat itu tak asing lagi bagi saya.

ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ, Saya pernah jadi bakal calon pendakinya. Kami, Stapala pernah sangat dekat dengan puncaknya, sebelum badai putih merenggut pencapaiannya.

Perih, mbrebes mili, nggembeng saya dibuatnya. Saya iri dengan mereka, sungguh.

Pfuff, sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang waktunya berfikir untuk masa depan.

Kemudian muncul cuplikan video pendidikan dasar Mahitala. Sekilas saja memang, tapi sudah bisa menggambarkan kualitas diklat dasar yang mereka jalankan.

Di sini saya berfikir, pantas saja hasilnya luar biasa, diksarnya saja juga luar biasa. Kalau kata simbah saya “ora baen-baen”, bukan main-main, tapi disusun dan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Setelah melihat cuplikan video diksar itu, saya semakin condong ke pendapat bahwa kualitas adalah yang utama. Jumlah anggota yang bejibun tak akan berguna jika tak berkualitas. Mengapa saya menyinggung kualitas dan kuantitas? Maklum saja, selama ini dalam perekrutan anggota, organisasi yang saya ikuti selalu terjebak dalam debat panjang tiada akhir: “mana yang lebih penting, kualitas atau kuantitas anggota baru”.

Akhirnya yang terjadi adalah menggadaikan kualitas diksar untuk mempertahankan satu-dua tambahan anggota. Sedih gak tuh.

Okey, kembali ke acara peluncuran bukunya. Acara ditutup dengan bincang-bincang dengan keempat seven summitter. Mereka berbagi cerita, kesan, dan pengalaman selama ekspedisi berlangsung.

Selepas acara, ketika keluar ruang studio, baru nampaklah wajah-wajah yang tak asing lagi di dunia adventure Indonesia. Terlihat Ogun Gunawan, Don Hasman, Paimo, Bongkeng, juga Herman Lantang. Nama terakhir datang dengan seragam khasnya, rompi dan topi koboi.

Herman Lantang, usianya sudah senja. Jalannya harus dibantu oleh sebuah tongkat gunung. Namun semangat mudanya tak perlu diragukan. Dengan mantab dia berikan nomor hpnya, dia tunjukkan juga alamat blognya.

“Sekarang saya menulis. Blog saya hermanlantang.blogspot.com. Anak saya yang kelola”. Mantab lah kakek yang satu ini.

Sebelum pulang, saya iseng menukarkan tiket tempat duduknya dengan goodie bag yang saya lihat masih banyak berjejer di belakang meja registrasi. Dan woilaaa, panitianya langsung memberikan satu goodie bag berisi kaos dan topi kepada saya. Alhamdulillah 😀

Mengenai bukunya sendiri, satu bundel buku yang terdiri dari dua buku (buku kedua dan buku terbaru) dibanderol dengan harga 400 ribu. Harga yang sangat mahal menurut saya. Tak lain karena foto-foto eksklusifnya.

Alangkah indahnya, jika bukunya bisa lebih murah lagi. Tak perlu dengan kertas dan foto lux. Cukup dengan kertas biasa, layaknya buku cerita lainnya. Terus bisa tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Tersebar di pepustakaan-perpustakaan SD, SMP dan SMA. Yang akan menginspirasi, memupuk mimpi-mimpi anak-anak negeri ini untuk mencapai puncak cita-citanya.

Bukan muluk cita harapan saya itu, karena pencapaian tujuh puncak oleh Mahitala itu sendiri sebenarnya berawal dari sebuah mimpi salah satu anggotanya. Sani Handoko, senior dari keempat seven summitter itulah yang mewujudkan mimpi lamanya ketika masih mahasiswa. Mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Motivasi dari WordPress

2 Comments

Akhir-akhir ini saya lebih sering mengupdate blog ini melalui aplikasi WordPress for Blackberry. Aplikasi ini bisa didownload secara gratis di application worl BB. Keunggulannya, saya bisa update kapan saja dan dimana saja asalkan ada sinyal HP. Begitu ada ide, langsung dah ketik di HP. Upload media -misalnya foto, pun bisa dilakukan melalui aplikasi ini.

Namun, kembali juga saya update via web. Selain karena gak kuat “ngragati paket BB” :D, ada satu hal yang bikin saya akhirnya kembali update blog via web. Tak lain adalah kata-kata penyemangat yang WordPress tampilkan begitu kita selesai memposting suatu judul. Quotes yang ditampilkan berhubungan dengan dunia penulisan. Maksudnya, WordPress memacu kita agar terus menulis.

Tak hanya quotes-quotes menarik saja yang ditampilkan oleh WordPress di dashboard sebelah kiri atas itu. Nampak juga tantangan dari WordPress berupa target yang diberikan kepada kita. Misalnya kita baru saja mempublih posting ke 100. Maka Worpress akan men”challenge” kita untuk mencapai target 105 posting, disertai dengan quotes seperti yang tersebut di atas.

Ketika kita berhasil mencapai target yang telah diberikan oleh WordPress, maka ucapan selamat pun akan ditampilkan juga di sana.

Berikut ini beberapa quotes yang pernah ditampilkan Worpress di dashboard blog saya:

The first step in blogging is not writing them but reading them. -Jeff Jarvis

Every writer I know has trouble writing. -Joseph Heller

There is creative reading as well as creative writing. -Ralph Waldo Emerson

Be obscure clearly. -OB White

The only reason for being a professional writer is that you can’t help it. -Leo Rosten

The art of writing is the art of discovering what you believe. -Gustave Flaubert

Dreams are illustrations from the book your soul is writing about you. -Marsha Norman

Ready for The Challenge, KNOT III 2012 Talaseta FE Universitas Pancasila

Leave a comment

Sekali ikut orienteering, dijamin bakal ketagihan. Aroma kompetisi dan rasa penasaran akibat kegagalan dalam menemukan suatu poin akan menuntun kembali ke medan laga orienteering berikutnya.

Tahun 2012 ini boleh dikatakan adalah tahun melesatnya kegiatan orienteering di Indonesia. Tahun ini Federasi Orienteering Indonesia akan mulai menghelat liga orienteering nasional. Dan kalaupun liga orienteering ini belum bisa terwujud (karena masih buram kejelasannya), masih ada kejuaraan-kejuaraan lain yang dihelat tahun ini. KNOT 3 adalah salah satunya. KNOT 3 akan diselenggarakan tanggal 14-15 April 2012. Tempat lombanya sendiri masih dirahasiakan hingga waktu technical meeting tanggal 14 April nanti.

KNOT singkatan dari Kejuaraan Nasional Orienteering Talaseta. Talaseta adalah nama kelompok pecinta alam Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila. Tahun ini KNOT akan digelar untuk yang ketiga kalinya. KNOT yang pertama digelar tahun 2006 di Bogor, KNOT 2 dihelat tahun 2008 di Karawang. Kebetulan saya ikut KNOT 2 di Karawang, setim dengan Poki yang saat ini sudah melanglang ke Kendari.

Dari dua event sebelumnya, KNOT mempunyai karakteristik khusus. Pertama sistem lombanya menggunakan sistem score event di mana peserta bebas mencari titik point sesuai strategi masing-masing tanpa ada keharusan mendatangi titik poin secara urut. Yang kedua, ini yang paling khas dari KNOT. Letak titik-titik poin tidak ditunjukkan langsung di dalam peta, peserta hanya akan diberi tahu koordinat dari titik-titik poin tersebut. Jadi, peserta harus memindahkan dulu (memplotting) koordinat yang diberikan ke dalam peta. Di sinilah kemampuan memplotting akan berpengaruh terhadap hasil lomba. Salah memplotting akan mengakibatkan kesulitan mencari titik poin, bahkan bisa jadi akan tertukar dalam menentukan titik poin yang satu dengan titik poin yang lain.

Stapala kirimkan 3 tim

Tahun ini Stapala berencana mengirimkan tiga tim terbaiknya. Sayangnya Stapala tidak akan mengirimkan tim putri. Entah apa alasannya, yang pasti sesungguhnya peluang untuk menjuarai event ini lebih terbuka kemungkinannya di kelas umum putri. Persaingan di kategori putri masih terbuka lebar untuk semua tim. Beda dengan kategori putra yang selalu didominasi tim-tim langganan juara.

Untuk menghadapi event ini, anggota TOS (Team Orienteering Stapala) terus giat berlatih. Eko Gokong berlatih di Magelang dan Jogja, Bowas berlatih di Gadog Ciawi, sementara saya sendiri latihan rutin di stadion Bea Cukai Rawamangun dan sempat berlatih di kawasan karst Pegunungan Sewu Gunungkidul 😀

Doakan kami, semoga bisa membawa piala ke Posko.

Pak Wir Wariso, In Memoriam – Tabib Ular Langka

1 Comment

Penampilannya sangat khas, meski bukan pensiunan pegawai negeri, seragam korpri yang lengan panjang itu sering melekat di badannya. Dengan celana kolor hitam gombrong sebatas bawah lutut, (dan ini yang paling khas) ia mengendarai sepeda onta tua loreng hitam putih. Sepeda onta bermotif ular “weling” itu menunjukkan bahwa dia akrab dengan hewan berbisa yang satu itu. Kesan seram dan menakutkan bertambah dengan jengot putih panjangnya, bikin takut anak kecil lah pokoknya 😀

Usianya tak lagi muda, juga bukan setengah baya, renta lebih tepatnya. Setang sepeda yang dikendarainya pun selalu bergetar, menandakan fisiknya yang sudah kian lemah. Namun, jangan ragukan semangatnya. Dari dusun ke dusun, desa kedesa, bahkan antar kecamatan dia sambangi. Bukan untuk show off sepeda anehnya, tapi untuk mengunjungi bekas “pasien”nya.

Gambaran visual di atas saya lihat saat saya SD. Dan tiga tahun lalu dia baru benar-benar “menyerah”, meninggal karena sakit tua. Ia dimakamkan bersama kemampuan luar biasanya menyembuhkan korban gigitan ular berbisa, tanpa ada yang mewarisinya.

Seberapa hebat dia?

Dia bukan nabi yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Pun ketika korban gigitan ular berbisa terlambat ditanganinya, ia pun tak kuasa menyembuhkannya. Namun kemampuannya sudah terkenal seantero kecamatan. Banyak korban ular berbisa selamat dari maut, tertolong oleh kemampuannya menawarkan racun. Ibu saya salah satunya.

Petang itu, dengan tergesa ibuku berlari kecil mengejar jamaah maghrib di masjid kampung mBugel. Sampai di perempatan dusun, ibuk merasa menginjak benda hidup. Sekejab kemudian sebuah sengatan terasa di kakinya. Seekor ular kecil ternyata. Beberapa orang yang mendengar teriakan ibukku berhasil menangkap ular kecil hitam itu dan membunuhnya.

Seperti kebiasaan di kampungku, jika ada yang digigit ular, masyarakat pasti langsung meminta Pak Wir Wariso untuk datang menawarkan bisanya. Alhamdulillah, setelah bisa ular dikeluarkan, ibuk bisa lolos dari maut.

Bagaimana dia menawarkan racunnya?

Pak Wir menawarkan atau lebih tepatnya mengeluarkan bisa ular dari korban dengan cara menghisab racun dari luka gigitannya. Mirip dengan adegan di film-film. Pertama-tama dia keluarkan “gaman” andalannya, sebuah keris kecil. Keris itu diusapkan kebibirnya, sedikit dijilat, kemudian dia sedot racun ular dan meyemburkannya keluar.

Dilihat dari sisi medis modern, cara ini sangat tidak dianjurkan karena bisa membahayakan orang yang menyedot bisanya. Salah-salah maut bisa menjemput karena bisa ular yang masuk ke mulutnya. Namun, mungkin karena sudah kebal, bisa ular itu tak berakibat fatal bagi Pak Wir.

Bukan dia tak pernah bersinggungan dengan maut dengan aktivitasnya sebagai tabib ular ini. Maut pernah mendekatinya ketika ia digigit salah satu ular peliharaannya. Memang konon katanya, dia memelihara beberapa ular di dalam rumahnya.

Kunjungan terakhir sang Tabib

Beberapa hari sebelum meninggal, Pak Wir sempat berkunjung ke rumah saya menemui bapak. Tidak seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya ketika dia meminta tembakau untuk rokok lintingan, kali ini dia meminta celana bekas pakai dari bapak. Tak mau dia diberi celana baru, dia ngotot minta celana bekas. Untuk kenang-kenangan katanya. Mungkin dia sudah merasa ini akan jadi kunjungan terakhirnya.

Akhir-akhir ini sering kejadian ular masuk ke dalam rumah saya. Beberapa diantaranya ular berbisa. Kini tak ada lagi orang yang bisa diminta mengusir ular dari pekarangan rumah secara “halus”. Terpaksa bapak harus membunuh ular-ular itu.

Edelweiss dan Hantu Gunung

3 Comments

Cap sebagai seorang pendaki sudah melekat pada diri saya meskipun sudah setahun saya tidak lagi naik gunung.

“Kapan naik lagi? Ajak-ajak dong!” adalah pertanyaan wajib yang bikin bosan tuk ngejawabnya :D.

Dua pertanyaan lain yang juga sering ditanyakan kepada saya adalah “Pernah lihat hantu di gunung gak?” Dan “nemu edelweiss gak?”

Pertanyaan pertama, bikin dongkol bin jengkel. Jawaban saya: seumur-umur saya belom pernah lihat hantu. Hellow, hari gini masih percaya hantu? Itu jin iseng kaleee, yang berusaha menggoyahkan iman kita.

Tak bisa dipungkiri memang, setiap gunung selalu ada cerita mistis yang terbangun di kalangan masyarakat di kaki gunung. Gunung Ciremai contohnya, populer dengan Nini Peletnya. Gunung Semeru dengan arca kembar mistisnya. Gunung Argopuro dengan kisah Dewi Rengganisnya, dan masih buanyak lagi.

Tapi sekali lagi, itu pemahaman yang salah. Sama halnya dengan kepercayaan masyarakat akan Nyi Roro Kidul. Bahwa mungkin ada pernah masyarakat yang pernah melihat penampakannya, tak lain itu hanyalah tipu daya jin.

Kalau masalah edelweiss, hampir di tiap gunung ada. Ada tuh puluhan hektar “kebun” Edelweiss di Alun-alun Surya Kencana Gunung Gede. Di Argopuro bahkan “kebun”nya lebih luas lagi.

Pertanyaan itu menjurus ke satu hal. Bahwa mendaki gunung identik dengan oleh-oleh sekuntum bunga abadi edelweiss. Sama seperti kalau kita mo naik gunung trus temen-temen awam pada nitip dibawakan oleh-oleh bunga edelweiss.

Saya sebut teman-teman “awam” karena mereka belum paham kode etik pendaki gunung. Bahwa kita dilarang untuk memetik, mengambil atau merusak sesuatu dari gunung, termasuk memetik sang Edelweiss yang langka ini.

Pernah di suatu waktu dalam perjalanan pulang dari mendaki Gunung Sindoro, saya bercakap-cakap dengan kondektur bus. Begitu tahu saya dan team baru saja turun gunung, langsung saja dia bertanya: “dapat edelweiss gak mas?”

Belum sempat saya menjawabnya, dia langsung cerita dengan bangganya, bahwa dia dulunya juga sering mendaki. Tiap kali turun gunung, yang dibawa adalah segenggam bunga edelweiss untuk diberikan ke gadis pujaan. Miris gak tuh?

Di lain kesempatan, saat mendaki Merbabu, anggota team saya langsung kalap begitu melihat edelweiss bermekaran. Langsung saja dia petik edelweiss dengan rakusnya. Prihatin gak tuh?

Tak hanya kalangan pendaki awam yang salah persepsi dengan edelweiss ini, yang mengira bunga ini bisa dipetik sesuka hati. Teman-teman yang katanya anggota organisasi pecinta alampun banyak yang melanggar kode etik ini. Foto-foto narsis dengan bunga edelweiss di genggaman tangan menjadi bukti ke”cubluk”an pikir mereka.
Sedih gak tuh?

Older Entries Newer Entries