Patriotisme dan nasionalisme bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dengan membaca. Mungkin celah ini yang dimanfaatkan Andrea Hirata untuk mendongkrak patriotisme anak muda Indonesia.

Jika dalam novel Laskar Pelangi Andrea Hirata (Ikal) berperan sebagai anak yang gemar bulutangkis, maka di novel Sebelas Patriot ini dia berperan sebagai seorang anak yang gemar bermain sepakbola. Kisahnya berawal ketika dia menyibak tabir sejarah ayahnya yang ternyata adalah seorang pemain bola mumpuni di Belitong pada jaman penjajahan Belanda.

Novel ini terdiri dari dua latar: pertama, pada jaman penjajah di mana ayahnya yang saat itu bekerja sebagai pegawai tambang berjuang melawan kolonialisme dengan cara membela klub sepakbola pribumi melawan klub sepakbola kolonial. Yang kedua saat ikal remaja berusaha mewujudkan mimpinya untuk menjadi pemain timnas PSSI demi membahagiakan sang ayah.

Dari segi cerita, novel ini sangat menarik dengan bumbu patriotisme anak muda. Di sini dipaparkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme tak semata hanya bisa dilakukan dengan cara berperang mengangkat senjata di medan laga namun juga bisa dilakukan oleh seorang pemain sepak bola kampung. Novel ini juga mengajarkan semangat pantang menyerah untuk meraih impian: digambarkan betapa gigihnya si Ikal berlatih bersama teman-temannya untuk menembus seleksi Timnas PSSI mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat nasional.

Alur yang lambat dengan rangkaian peristiwa nan detail akan membawa pembaca tenggelam dalam cerita, seakan terlibat dalam peristiwa. Hal ini tampak dalam ilustrasi pertandingan sepak bola antara tim primbumi melawan tim kolonial. Pilihan kata-kata melayu khas Andrea Hirata juga menambah indah bahasanya. Tak ketinggalan, Andrea Hirata juga memasukkan cerita-cerita jenaka dalam novelnya.

Satu hal yang membuat novel ini jadi kurang greget adalah penebusan kegagalan meraih mimpi si Ikal untuk menjadi pemain tim nasional PSSI dengan “hanya” mendapatkan kaos tim Real Madrid yang ditanda tangani oleh pemain favoritnya, Luis Figo. Seakan tak sebanding memang, tapi di luar itu novel ringan itu (112 halaman) sangat layak dibaca oleh generasi muda kita tuk menumbuhkan semangat nasionalisme yang mulai tergerus zaman.